WARASHI

Mengendalikan  gula darah  itu mudah, yang sulit adalah mencegah dan mengobati  komplikasinya ,  seperti  - Disfungsi ereksi atau  impotensi...

Anak 16 bulan belum bisa jalan / Keterlambatan Berjalan pada Anak, Penyebab dan Penanganannya membuat orang tua was was jangan jangan lumpuh layu. dan cacat seumur hidup

Kebanyakan orang tua mengharapkan anaknya bisa berjalan lebih cepat dibanding anak lainnya. Namun ternyata, perkembangan motorik khususnya kemampuan berjalan usia normal sebenarnya bervariasi mulai dari usia 9 bulan sampai 18 bulan.

Orang tua harus mulai khawatir ketika anak tidak bisa berjalan ketika usianya sudah mencapai 18 bulan. Memang, bisa berjalan saat usia 15-18 bulan adalah masih dalam batas normal, tetapi biasanya anak seperti ini mempunyai gangguan motorik kasar dan gangguan keseimbangan yang ringan yang akan lebih baik diberikan intervensi dan stimulasi sejak dini.
Pada umumnya, anak terlambat jarang disertai keterlambatan gerakan motorik kasar lainnya dan gangguan keseimbangan. 
Dan seringkali orangtua atau beberapa dokter menganggap anak tidak percaya diri atau trauma saat berjalan. Padahal, sebagian dari anak tersebut mengalami keterlambatan motorik kasar dan gangguan keseimbangan baik dalam tingkat yang ringan atau yang tidak ringan. Sebaiknya, orangtua memerhatikan perkembangan motorik kasar, gangguan vestibularis dan gangguan sensoris pada anak yang sering menjadi penyebab anak terlambat berjalan.

Tahap perkembangan gerakan motorik normal
  • 6-8 bulan: Duduk dan merangkak dengan dua dengkul kaki.
  • 12-18 bulan: Berdiri tanpa bantuan, Berjalan dengan merambat ke perabotan di rumah, Berjalan 2 atau 3 langkah tanpa bantuan, Berjalan 10-20 menit tanpa bantuan.
  • 18-24 bulan: Berjalan tanpa kesulitan, Menarik mainan sambil berjalan, Membawa mainan besar sambil berjalan, Naik/turun bangku tanpa bantuan, Menemukan cara sendiri untuk berjalan mundur, Bisa naik/turun tangga dengan bantuan.
  • 24-36 bulan Umumnya mampu memanjat dengan baik, berjalan naik/turun tangga dengan menggunakan satu kaki per anak tangga, Berjalan jinjit.

Penyebab tersering anak terlambat berjalan

1. Ketidakmatangan Persyarafan
Kemampuan anak melakukan gerakan motorik sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang mengatur gerakan tersebut. Pada waktu anak dilahirkan, syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syarat belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya, yaitu mengontrol gerakan-gerakan motorik. Pada usia ± 5 tahun, syaraf-syaraf ini sudah mencapai kematangan, dan menstimulasi berbagai kegiatan motorik. Otot-otot besar yang mengontrol gerakan motorik kasar, seperti berjalan,berlari, melompat dan berlutut, berkembang lebih cepat bila dibandingkan dengan otot-otot halus yang mengontrol kegiatan motorik halus, seperti menggunakan jari-jari tangan untuk menyusun puzzle , memegang pensil atau gunting membentuk dengan plastisin atau tanah liat, dan sebagainya.
2. Gangguan vestibularis atau keseimbangan
Pada anak yang mengalami dysfunction of sensory integration (DSI) sering mengalami gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan yang terjadi ini seringkali dianggap anak kurang percaya diri. Gangguan keseimbangan ini biasanya ditandai dengan anak takut saat berenang, menaiki mainan yang bergerak dan bergoyang seperti ayunan, mainan kuda-kudaan listrik dengan koin, naik lift atau eskalator. Anak tidak suka naik umumnya di dalam mobil. Anak mungkin tidak kooperatif sebagai upaya menghindari sensasi yang membuat anak terganggu. Anak yang underreactive untuk input vestibular tampaknya tidak pusing bahkan setelah berputar untuk waktu yang lama, dan tampaknya menikmati gerakan cepat seperti berayun. Bila berjalan terburu-buru, gerakannya canggung, mudah tersandung atau jatuh. Dia mungkin tidak membuat upaya untuk menangkap dirinya sendiri ketika dia jatuh. Anak tampak kesulitan memegang kepalanya sambil duduk. Anak tidak cenderung untuk melakukannya dengan baik dalam olahraga. Dia mungkin memiliki gaya canggung, atau gerakan yang tidak biasa ketika bergerak lengan atau kepala. Biasanya juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi visual-spasial yang khas.
3. Keterlambatan ringan perkembangan motorik kasar
Seorang anak yang terlambat berjalan, kemungkinan juga terlambat dalam duduk dan merangkak. Namun sayangnya, keterlambatan ini bukanlah hal pertama yang mungkin disadari oleh para orangtua. Jika ini penyebabnya, maka dokter akan melihat jalan anak dalam konteks yang berbeda dan mencari tahu berada dimana ia dalam rangkaian perkembangan motoriknya. Biasanya juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi visual-spasial yang khas.
4. Gangguan sensoris

Pada kasus tertentu, anak sering mengalami sensitif pada telapak tangan dan kaki. Sehingga hal ini mengakibatkan anak sering jinjit. Selama ini, jalan jinjit atau Tip Toe masih belum diketahui penyebabnya. Meskipun bukan karena kelainan anatomis. Selama ini, orangtua menganggap hal itu adalah memang perilaku anak. Pada anak dengan gangguan sensoris raba biasanya disetai gangguan sensoris suara dan cahaya. Gangguan sensoris suara biasanya anak takut dan tidak nyaman ketika mendengar suara dengan frekuensi tertentu seperti suara blender, suara bayi menangis, suara gergaji listrik. Gangguan sensoris cahaya biasanya anak sangat sensitif terhadap cahaya terang dan sinar matahari.
Faktor Predisposisi

Keterlambatan berjalan biasanya sering terjadi pada kelompok anak tertentu seperti :
Bayi prematur, obesitas atau kegemukan, bayi lahir dengan berat bada rendah atau kurang dari 2.500 gram, anak dengan gangguan hipersensitif saluraan cerna seperti gastropoesepageal refluks, sering muntah, mual atau sering sulit buang air besar. Keadaan ini sering terjadi pada anak alergi atau hipersensitif saluran cerna.  Sangat jarang pada anak menderita tumor otak, retardasi mental dan cerebral palsy.

Penanganan cara tabib Masrukhi

Melalui terapi alternatif komplementer kami mengobati penyebab nya dahulu. Jika terjadi keterlambatan si kecil dalam berjalan, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memastikan adanya gangguan persarafan dengan melakukan pemeriksaan neurologis, penilaian terhadap fleksibilitas sendi, kekuatan otot dan berbagai gerakan.

Bila penyebabnya disebabkan karena adanya keterlambatan motorik dan gangguan keseimbangan maka sebaiknya dilakukan beberapa stimulasi intervensi latihan untuk memperbaikinya. Stimulasi dan intervensi bila dilakukan pada keterlambatan berjalan yang ringan karena akan berdampak dengan kemampuan motorik lainnya dimasa depan.

Konsultasi hub : 082332222009
Apakah penyakit gbs bisa kambuh lagi ? ini pertanyaan yang sering kami hadapi
Menurut informasi yang kami dapat GBS bisa kambuh kembali pada penderita dengan tigakt resiko kambuh ini diperkirakan kurang dari 10%.
karena itu pengobatan GBS / SGB harus mampu menangani penyebabutamanya. tanpa mengatasi penyebab utamanya maka resiko kambuh akan semakin besar. dan hal yang paling sulit jika SGB di sebabkan karena virus HIV

Apa Penyebab Guillain Barre Syndrome (GBS)?

Penyebab pasti GBS sampai saat ini memang belum diketahui. Namun banyak kasus GBS yang sering disebabkan adanya infeksi viral dan bakteri. Beberapa virus yang paling sering menyebabkan GBS adalah Cytomegalovirus (CMV), HIV, Measles dan herpes simplex virus. Sementara bakteri yang paling sering ditemui adalah Campylobcater jejuni.

Karena adanya benda asing (virus atau bakteri), maka secara alami imun akan memproduksi antibodi untuk memerangi benda asing tersebut. Namun pada penderita GBS, antibodi tersebut justru tidak menyerang benda asing yang datang, melainkan menyerang saraf tepi tubuh. Dalam hal ini, antibodi menyerang selubung myelin, yaitu selubung yang menyelubungi saraf tepi. Sistem saraf dalam tubuh manusia merupakan ‘kabel utama’ tubuh, maka dari itu jika ‘kabel’ tersebut diserang maka akan mengakibatkan gangguan dan membuat sistem tubuh menjadi ‘down’.

Gejala Guillain Barre Syndrome (GBS)?

GBS sering diawali dengan adanya infeksi pada saluran pencernaan dan pernafasan oleh virus ataupun bakteri. Beberapa gejala yang sering muncul pada penderita GBS adalah sebagai berikut :
  1. Rasa seperti ditusuk – tusuk jarum pada jari kaki atau tangan yang kemudian dikuti dengn mati rasa.
  2. Kesemutan pada kaki, paha, yang kemudian merambat ke badan dan tangan.
  3. Kehilangan refleks.
  4. Nyeri pinggang.
  5. Mengalami kegoyahan pada saat berjalan, bahkan terkadang tidak mampu berjalan sama sekali.
  6. Jika kasus GBS lebih parah, maka akan muncul – gejala – gejala berikut :
  7. Gangguan pada bola mata.
  8. Sulit berbicara.
  9. Gangguan pada saat mau menelan.
  10. Gangguan pada saat buang air besar dan buang air kecil.
  11. Gangguan pada sistem pernafasan
 
Hal ini akan mengakibatkan saraf tepi tidak mampu meneruskan perintah dari otak ke organ atau sebaliknya, dan akhirnya otot pada organ tidak bisa digerakkan. Bahkan pada beberapa kasus GBS yang sudah parah dapat mengakibatkan komplikasi tidak bisa bernafas, tidak bisa menelan, tidak bisa bersuara, bahkan jantung berhenti berdetak.

Bagaimana cara pengobatan nya ? 
Hub kami Insha Allah cepat sembuhnya. 085869412009

Guillain Barre Syndrome (GBS)

Sebelum menjawab pertanyaan Anda, ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan.
Apakah Anda menderita diabetes? Apakah Anda mengonsumsi alkohol? Apakah saat ini sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu? Bagaimana kadar profil lemak dalam darah Anda?
Secara umum, fatty liver dapat disebabkan oleh alkohol, obesitas, diabetes mellitus, konsumsi obat kortikosteroid, hiperlipidemia, dll. Pada fatty liver yang tidak terlalu berat, terkadang tidak dibutuhkan penanganan apapun. Namun, kontrol berat badan, diet rendah lemak dan olah raga terkadang dapat memberikan hasil yang baik dan mengurangi perjalanan perkembangan fatty liver.
Selama kondisi fatty liver Anda terkontrol, maka tidak ada masalah dengan pekerjaan fisik yang cukup berat. Anda terlebih dulu perlu mengetahui apa yang menyebabkan kondisi fatty liver Anda dan menghindarinya agar tidak terjadi perburukan. Anda juga perlu menjalankan pola hidup sehat, dengan:
  1. Makan teratur  dan bergizi
  2. Istirahat cukup
  3. Olahraga (3-4x/minggu, @30 menit)
  4. Tidak merokok
  5. Jalani hidup dengan santai dan hindari stres
Anda juga perlu menghindari makanan-makanan berikut untuk menjaga kadar lemak dalam darah Anda terkontrol:
  • Hindari makan goreng-gorengan
  • Makanan dengan kandungan tinggi lemak
  • Hindari alkohol
  • Hindari makanan yang akan memperberat penyakit yang menjadi penyebab terjadinya fatty liver pada diri anda
  • Tingkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan

Rafki Hidayat



Dengan mengkonsumsi obat Pre-Exposure Prophylaxis atau PrEP, orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV, dapat tercegah dari virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu.
Namun, obat ini ternyata sulit didapatkan di Indonesia.
Salah satu pengguna obat PrEP adalah Setia Perdana. Pemuda ini sudah satu setengah tahun mengkonsumsinya.

Image captionSetia mengaku tidak merasakan efek samping selama mengkonsumsi obat PrEP.

"Saya ingin punya kehidupan seks yang positif, artinya yang bebas dari tekanan dan kekhawatiran. Dan tak bisa dipungkiri, bagi sebagian orang kehidupan seks itu dinamis, artinya tidak monoton dengan satu orang, misalkan," ungkap Setia yang juga merupakan aktivis PrEP.
Dengan kondisi itu, Setia pun menggunakan obat PrEP sebagai bagian dari 'perlindungan multi-lapis' "agar terlepas dari rasa kekhawatiran berlebihan dari infeksi HIV".

Image captionDi Amerika Serikat, PrEP mulai diterapkan sebagai upaya pencegahan HIV sejak Juli 2012.

PrEP adalah metode yang bisa dibilang baru dalam pencegahan penularan virus HIV bagi orang yang berstatus HIV negatif.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat Pertama kali mengesahkan obat PrEP sebagai bagian dari strategi pencegahan HIV pada pertengahan Juli 2012.
Pada Juli 2014, Badan Kesehatan Dunia (WHO) "sangat merekomendasikan" metode ini. Pasalnya PrEP diklaim "efektif mencegah penularan virus HIV hingga 96% jika dikonsumsi setiap hari."
Lalu apa sebenarnya PrEP?

Rendahnya penggunaan kondom

Stanislaus Bondan Widjajanto yang merupakan dokter di bidang kesehatan reproduksi, HIV dan penyakit menular seksual dari Klinik Angsamerah di Jakarta Selatan mengungkapkan obat PrEP itu sebenarnya adalah obat antiretroviral (ARV).

Hak atas fotoBBC
Image captionDr. Bondan mengungkapkan obat PrEP efektif mencegah HIV setelah 20 hari pemakaian.

ARV sebelumnya hanya digunakan pada pasien yang sudah positif terinfeksi virus HIV, untuk menekan perkembangan virus.
"Yang diberikan untuk PrEP itu adalah (ARV merk) Truvada. Kandungannya ada dua; tenofovir dan emtricitabine," kata dokter yang akrab disapa Bondan itu.
Bondan bercerita, ketika HIV masuk ke tubuh, virus tersebut "membutuhkan enzim". Tenofovir dan emtricitabine bekerja "menghambat produksi enzim itu sehingga virus tidak dapat menjalani proses pembelahan diri."

Hak atas fotoGETTY
Image captionARV Truvada digunakan sebagai obat PrEP karena mengandung tenofovir dan emtricitabine.

Meskipun begitu, metode ini hanya direkomendasikan bagi mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV, misalnya pekerja seks komersial, 'pengguna jarum suntik', heteroseksual atau homoseksual yang bergonta-ganti pasangan, dan pasangan serodiscordant atau yang salah satunya positif HIV.
"Bagi pasangan serodiscordant, kalau yang HIV negatif itu si istri (suami HIV positif) dan mereka ingin punya anak, maka si istri bisa dikasih PrEP dulu, setelah itu mereka boleh berhubungan seks tanpa kontrasepsi," tutur Bondan.

Image captionKlinik Angsamerah fokus pada pelayanan kesehatan terkait kesehatan reproduksi, HIV dan infeksi menular seksual.

Lebih jauh lagi, Bondan mengungkapkan PrEP bisa menjadi jawaban atas masih rendahnya kesadaran penggunaan kondom di Indonesia.
"Tidak semua orang bisa pakai kondom. Ada beberapa orang yang mengeluhkan, kalau pakai kondom, langsung disfungsi ereksi. Kan nggak mungkin memaksa mereka pakai kondom. Harus ada jalan keluar bagi mereka."

Sulit didapat di Indonesia

Dengan segala 'keefektivannya', obat PrEP ternyata 'sulit diakses di Indonesia'. Ini karena PrEP belum masuk dalam program pencegahan HIV pemerintah.
"ARV hanya tersedia untuk mereka yang positif HIV. Artinya jika (yang negatif HIV) ingin beli PrEP di dalam negeri, prosesnya tidak mudah," tutur Setia.

Image captionJumlah kasus infeksi HIV baru terus meningkat di Indonesia.

Setia bercerita pernah mengunjungi beberapa klinik di Jakarta dan Bali yang menyediakan ARV untuk PrEP, "tetapi mereka kesulitan menjaga supply. Padahal obat PrEP harus diminum setiap hari supaya efektif."
Setelah melakukan riset, ia pun menemukan bahwa sejumlah klinik pemerintah dan swasta di Bangkok, Thailand, telah menyediakan obat PrEP. Obat yang dijual adalah versi generik dari Truvada, yaitu Teno-Em, yang juga mengandung tenofovir dan emtricitabine.

Image captionTeno-Em dibeli Setia di Bangkok dengan harga yang disebutnya masih terjangkau.

"Harganya (Teno-Em) cukup terjangkau, hanya sekitar Rp250.000, per botol untuk satu bulan. Dari studi, efektivitasnya ternyata sama dengan versi paten (Truvada)."
Alhasil, setiap tiga bulan sekali Setia harus terbang ke Bangkok untuk membeli obat PrEP, "karena maksimal saya bisa dapat untuk tiga bulan sekaligus."

Image captionTes HIV rutin tetap perlu dilakukan meskipun telah mengkonsumsi PrEP.

Meskipun begitu dia tetap mengharapkan PrEP bisa diterapkan di Indonesia, "setidaknya harus bisa melakukan proses monitoring, karena pengguna PrEP secara informal di dalam negeri terus meningkat."
Setia menyebut dirinya ikut membantu sebanyak 24 orang lainnya untuk berkonsultasi dan mendapatkan akses PrEP di Bangkok.
"Mereka harus di-tes rutin untuk mengecek kesehatan dan status HIV-nya. Kita juga harus pastikan mereka selalu dapat obatnya, karena ada kemungkinan resistensi terhadap obat jika tidak disiplin dan monitoring tidak dilakukan," pungkas Setia.

'Kesulitan Dana'

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah kasus baru HIV cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jika tahun 2015 ada 30.935 kasus baru, Kemenkes memprediksi akan ada 34.000 kasus infeksi HIV baru hingga akhir 2016.
"Perlu ada inovasi cara pencegahan," kata Setia.
Meskipun sudah direkomendasikan oleh WHO, Indonesia belum menerapkan PrEP dalam skema pencegahan HIV nasional, "karena belum ada uji coba".
"Saya tidak bisa mengatakan PrEP itu baik atau tidak, karena uji cobanya belum... (tapi) PrEP sudah masuk dalam rencana kita, (meskipun) masih dalam tahap-tahap persiapan untuk uji coba," ungkap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Wiendra Waworuntu.

Image captionWiendra Waworuntu: PrEP belum diterapkan karena belum diuji coba di Indonesia.

Menurutnya, banyak yang harus dipertimbangkan sebelum menerapkan PrEP. Misalnya terkait persiapan fasilitas kesehatan, persiapan logistik dan ketersediaan ARV.
Wiendra menyebut, persiapan uji coba akan dilakukan di Jakarta dan Denpasar. Namun, ketika ditanya kapan uji coba tersebut dilakukan, ia tidak memberi jawaban pasti, "Saya tidak bisa mengatakan ada target tahun kapan (mulai) PrEP."

Hak atas fotoGETTY
Image captionPenerapan PrEP juga terkendala masalah dana.

Tidak hanya itu, ada masalah lain yang disebut Kemenkes masih mengganjal penerapan PrEP di Indonesia.
"Duitnya saya rasa berat," aku Wiendra.
Saat ini pemerintah dibantu dana dari Global Fund, telah mengucurkan "Rp800 miliar per tahun untuk menyediakan ARV bagi yang HIV positif. Itu sudah pas." Alhasil, orang dengan HIV positif dapat mengakses ARV dengan 'gratis'.
Wiendra bercerita "kalau ada PrEP, dananya akan jauh lebih besar. Paling tidak dua kali lipat, Rp1,6 triliun."
Ia mendorong orang yang berisiko untuk rajin mengecek kondisi kesehatan dan terus menggunakan kondom, karena PrEP hanya untuk mencegah HIV, tetapi tidak penyakit menular seksual lainnya.

Image captionSetia dan obat PrEP-nya.

Dari penjelasan pemerintah tersebut, tampak mimpi Setia agar metode PrEP diterapkan di Indonesia, masih jauh dari kenyataan.
"Mungkin kita bisa belajar dari sejumlah negara yang sudah menerapkan PrEP. Contohnya, di Amerika Serikat, di San Francisco. Setelah diterapkan pada kelompok berisiko, infeksi HIV baru menurun hingga sepertiganya. Efeknya sangat cepat," pungkas Setia
Perlemakan hati atau fatty liver adalah kondisi dimana terjadi timbunan lemak berlebihan dalam hati. Sebenarnya perlemakan hati tidak terlalu berbahaya namun apabila terjadi terus menerus dan berulang berpotensi menimbulkan kerusakan dan sirosis.

Adanya lemak dalam liver itu normal tetapi jika jumlahnya lebih dari 5%-10% dari berat liver maka dapat menimbulkan penyakit yang bisa menimbulkan beberapa komplikasi serius. Ada dua jenis fatty liver berdasarkan penyebabnya yakni alkoholik dan non-alkoholik
Perlemakan hati karena alkohol
Di Amerika lebih dari 15 juta orang menyalah gunakan atau mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang berlebihan. Kejadian perlemakan hati pada penyalahgunaan alkohol tersebut mencapai 90%-100%.
Fatty liver dapat terjadi setelah meninum alkohol dalam jumlah sedang atau banyak. Bahkan bisa terjadi setelah minum berat dalam waktu singkat (Penyakit hati alkoholik akut)
Pada penyakit fatty liver alkoholik, gejala bisa dihentikan, disembuhkan atau bisa juga memburuk. Saat sirosis (pengerasan hati) terjadi, fungsi liver akan menurun dan dapat terjadi :
  • Retensi cairan
  • Pengecilan otot
  • Perdarahan internal
  • Jaundice (penyakit kuning)
  • Kegagalan fungsi hati
Perlemakan hati non alkohol
Penyakit perlemakan hati non-alkohol sekarang menjadi penyebab paling banyak penyakit hati kronis di AS. Diperkirakan 20% populasi dewasa mengalami masalah kesehatan ini meskipun tidak menimbulkan gejala. Di Indonesia perlemakan hati non-alkoholik paling banyak terjadi karena sebagian besar penduduknya tidak mengkonsumsi alkohol. Dari derajat keparahan penyakit ada dua macam. Yang pertama perlemakan hati biasa atau steatosis dan yang kedua dikenal sebagai Non Alcoholic Steatohepatitis/NASH . Jenis ini dapat menyebabkan peradangan sel hati, bahkan kerusakan yang akhirnya membentuk jaringan parut (fibrosis) hati.
Penyebab perlemakan hati non alkohol 80% disebabkan karena obesitas atau kegemukan sedangkan penyebab lainnya bisa karena diabetes, kehamilan, dislipidemia, keracunan, beberapa jenis obat, operasi bypass pada usus kecil, kurang gizi dan diet rendah protein.
Gejala perlemakan hati
Fatty liver jarang menimbulkan gejala karena prosesnya berjalan dengan lambat namun jika terus berlanjut dapat menimbulkan beberapa keluhan seperti :
  • Nyeri tumpul di bagian kanan atas perut dan perasaan tidak nyaman pada daerah tersebut
  • Kulit dan sklera mata yang kekuning-kuningan (jaundice)
  • Mudah lelah, lesu dan lemas
  • Kadang merasa mual, muntah dan perut kembung
  • Berat badan dapat menurun atau menurunnya nafsu makan apabila dalam keadaan berat
Diagnosis dapat ditegakan dari gejala yang muncul, pada pemeriksaan fisik didapati pembesaran hati. Pemeriksaan penunjang dengan USG, pengambilan sampel sel hati dengan jarum (biopsi hati) meskipun tidak lazim dilakukan, pemeriksaan bilirubin, SGOT/SGPT.
Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk perlemakan hati. Tujuan pengobatannya hanya mengobati penyakit yang mendasari jika ada, dan menghilangkan penyebabnya.
  • Jika obesitas maka perlu dilakukan penurunan berat badan sekitar setengah kilogram perminggu.
  • Jika disebabkan karena alkohol maka harus berhenti minum minuman beralkohol.
  • Diet sehat dan seimbang.
  • Menghindari obat-obatan yang tidak perlu
  • Jika sirosis semakin parah mungkin perlu dilakukan tranplantasi hati dengan membuang bagian yang rusak dan diganti dengan sel yang sehat.
  • Uji klinis juga melihat efektivitas antioksidan tertentu dan obat diabetes baru dalam mengobati penyakit hati berlemak (karena penyakit stres oksidatif dan diabetes). Ini termasuk Vitamin E, Selenium, Betaine, Metformin, Rosiglitazone, Pioglitazone.
Namun secara komplemen fatty liver bisa di obati dengan mudah.
Kami tabib Masrukhi pengalaman pengobatan penyakit fatty liver insha Allah
Kondisi fatty liver tidak dapat diobati atau dilakukan operasi. Umumnya, dokter akan memberikan rekomendasi untuk menekan faktor risiko dengan memperbaiki gaya hidup yang lebih sehat

Namun secara komplemen fatty liver bisa di obati dengan mudah.
Kami tabib Masrukhi pengalaman pengobatan penyakit fatty liver insha Allah 

Jika sudah berobat belum juga sembuh, jangan ragu hub kami Tabib Masrukhi 082332222009
Ketika perut terasa nyeri atau mual, gangguan lambung sering dianggap sebagai penyebabnya. Padahal ada berbagai gangguan lain yang dapat menyebabkannya, termasuk fatty liver atau perlemakan hati.
Sebagai organ terbesar kedua pada tubuh, hati berfungsi memroses apa pun yang dikonsumsi dan menyaring segala sesuatu yang dapat membahayakan tubuh. Terbentuknya fatty liver (steatosis) dapat mengganggu fungsi tersebut. Fatty liver  terjadi ketika hati sudah tertutup lemak lebih dari 5% dari berat total hati.
Jangan Salahartikan gejala fatty liver dengan gangguan lambung - alodokter

Mengenali Perbedaannya

Fatty liver dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu pada pengonsumsi alkohol (alcoholic fatty liver), non-alkohol (nonalcoholic fatty liver/NAFL), dan yang terjadi selama kehamilan.Khusus penyakit perlemakan hati non-alkohol jarang sekali menunjukkan gejala yang jelas.
Ketika perlemakan hati sudah berjalan beberapa waktu, ada kemungkinan penderitanya mengalami rasa sakit di perut bagian kanan atas, kelelahan, dan penurunan berat badan. Ada pula gejala lain seperti mual, linglung, ataupun sulit berkonsentrasi. Kulit bagian leher ataupun ketiak tampak kehitaman.
Sekilas, gejala fatty liver bisa saja disalahartikan dengan gangguan lambung.  Misalnya, peradangan pada dinding lambung atau gastritis. Gejalanya hampir serupa yaitu mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan. Namun, rasa nyeri gastritis biasanya pada perut bagian atas. Jika sudah parah, bisa diiringi muntah darah atau tinja berwarna merah.
Selain itu, infeksi perut atau gastroenteritis juga memiliki gejala yang mirip. Yaitu mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan. Hanya saja, penyakit ini umumnya diriingi demam, sakit kepala, atau sakit otot.

Melakukan Pemeriksaan

Untuk memastikan kondisi organ hati, maka dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama bagian perut. Organ hati akan teraba sedikit membesar.  Pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan tes darah. Kemungkinan tes akan menunjukkan enzim hati lebih tinggi dari ukuran normal jika benar terjadi fatty liver.Jika belum memadai, pasien akan diminta menjalankan pemeriksaan ultrasound, CT scan ataupun MRI untuk memperjelas seberapa banyak lemak pada organ hati. Pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan dengan biopsi hati. Proses tersebut memerlukan anastesi lokal, karena dokter akan memasukkan jarum ke organ hati untuk mengambil sebagian jaringan untuk diperiksa. Biopsi akan memastikan kondisi fatty liver sekaligus penyebabnya.
Beberapa kondisi atau penyakit dapat meningkatkan risiko fatty liver antara lain kadar kolesterol dan trigliserida tinggi, obesitas, diabetes tipe 2, sindrom metabolisme, hipotiroid, gangguan tidur, dan lain-lain.

Cara Mengatasi

Kondisi fatty liver tidak dapat diobati atau dilakukan operasi. Umumnya, dokter akan memberikan rekomendasi untuk menekan faktor risiko dengan memperbaiki gaya hidup yang lebih sehat. Misalnya membatasi konsumsi alkohol, menjaga stabilitas kadar kolesterol dan gula darah, dan menurunkan berat badan.Selain itu, memperbaiki kondisi fatty liver juga termasuk dengan memilih jenis makanan yang lebih sehat. Seperti mengganti daging merah dengan ayam atau ikan, serta mengonsumsi lebih banyak sayur, buah, dan biji-bijian utuh.
Kemungkinan dokter juga akan merekomendasikan pasien fatty liver mendapatkan vaksinasi hepatitis A dan vaksinasi hepatitis B. Itu diperlukan untuk membantu melindungi tubuh dari virus yang dapat memperparah kerusakan organ hati..
Kenali gejala fatty liver dan sedapat mungkin hindari gaya hidup yang dapat memicunya. Konsultasi dengan dokter untuk memperoleh informasi dan pemeriksaan lebih lanjut.