WARASHI

Mengendalikan  gula darah  itu mudah, yang sulit adalah mencegah dan mengobati  komplikasinya ,  seperti  - Disfungsi ereksi atau  impotensi...

Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik
Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta, Prof. DR. Dr. Rusdi Lamsudin, M.Med.Sc, SpS(K), (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Tubuh sebenarnya memiliki antibody untuk menangkal serangan virus yang masuk ke dalam tubuh. Termasuk virus yang mengakibatkan terjangkitnya seseorang mengalami penyakit Guillain Barre Syndrom (GBS), seperti yang dialami oleh mahasiswi FKIP UNS, Aqin Rizka Ayanti hingga dirinya meninggal dunia.

Seperti yang diungkapkan oleh Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta, Prof. DR. Dr. Rusdi Lamsudin, M.Med.Sc, SpS(K), sebagian besar kasus penyakit disebabkan oleh infeksi virus. Termasuk dalam kasus penyakit GBS ini. Biasanya virus yang menjangkiti pasian GBS adalah Cytomegalovirus (CMV), HIV, Measles dan Herpes Simplex Virus. Sedangkan untuk penyebab bakteri yang timbul paling sering oleh Campylobacter jejuni.

“Virus dapat masuk melalui berbagai media yang melakukan kontak langsung dengan tubuh, seperti makanan, minuman, air maupun udara,” ungkapnya.

Dikatakannya, saat kondisi normal, tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan antigen (zat yang merusak tubuh) ketika tubuh terinfeksi penyakit, virus, atau bakteri. Pada kasus GBS, antibodi justru menyerang sistem saraf tepi dan menyebabkan kerusakan sel saraf. Hal ini terjadi karena antibodi merusak selaput myelin yang menyelubungi sel saraf (demyelinasi). Sehingga menyebabkan kelumpuhan motorik dan gangguan sensibilitas.

“Jika kerusakan terjadi sampai pangkal saraf maka dapat terjadi kelainan pada sungsum tulang belakang,” ujarnya.

Diungkapkannya, pasien GBS akan merasakan hilangnya sensitivitas pada tubuh yang ditandai dengan kesemutan, mati rasa dan nyeri. Penderita GBS yang sudah parah, akan menyerang pada paru-paru dan melemahkan otot-otot pernapasan. Sehingga diperlukan ventilator untuk menjaga pasien agar tetap bertahan.

“Jika sudah menyerang paru-paru ini harus dipasang ventilator, supaya pasien bisa bertahan,” ungkapnya.

Hal itu bisa diperparah, ketika terjadi infeksi di dalam paru-paru. Akibatnya akan menurunkan kemampuan pertukaran gas dan kemampuan membersihkan saluran pernafasan.

“Jika sudah seperti ini maka harapan hidup pasien akan semakin menipis,” pungkas Prof Rusdi.