“Dan apabila aku sakit. Dialah (Allah) yang menyembuhkanku” (As Syu’araa: 80)

Haruskah Penderita Diabetes Minum Obat Diabetes Seumur Hidup?

Diabetesi tentu tersiksa dengan penyakit yang dideritanya. Tapi, perlukah penderita diabetes minum obat seumur hidup?

Diabetes atau sering disebut dengan penyakit kencing manis masih menjadi penyakit metabolik yang sering terjadi di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Saat ini, banyak sekali orang dewasa muda terserang penyakit ini. Penderita diabetes atau diabetesi bahkan disebut-sebut harus makan obat diabetes seumur hidup.

Dua faktor yang berperan penting dalam terjadinya kondisi tersebut, antara lain adalah faktor genetik dan  pola hidup yang tidak sehat.


Menurut International Diabetes Federation (IDF), pada tahun 2035 jumlah penderita kencing manis di dunia diperkirakan akan semakin meningkat, yaitu sekitar 529 juta orang, dimana hampir 175 jutanya terlambat terdiagnosis.  Sedangkan di Indonesia, penyakit kencing manis menjadi penyebab kematian untuk 1,5 juta orang sejak tahun 2013.

Tanda dan gejala diabetes mellitus

Seseorang dapat terdiagnosis memiliki penyakit diabetes apabila memiliki gejala klasik seperti sering BAK (poliuria). Penderita juga haus berlebihan (polidipsia), sering merasa lapar (polifagia) dan adanya penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. 

Keluhan lain yang dapat muncul selain gejala klasik antara lain terasa lemah seluruh badan serta kulit terasa gatal. Keluhan lainnya adalah pandangan kabur, bahkan gangguan seksual seperti disfungsi ereksi pada laki-laki.

Selain melihat dari gejala yang muncul, penyakit diabetes dapat dideteksi dengan mudah melalui pemeriksaan kadar gula darah dalam tubuh. Dikatakan positif menderita diabetes apabila kadar gula darah puasa ≥ 126 mg/dl atau kadar gula darah  ≥ 200 mg/dl. 

Bisakah penyakit diabetes sembuh?

Penyakit diabetes terjadi karena ketidakmampuan organ pankreas menghasilkan insulin, kelainan kerja insulin (resistensi insulin) maupun kombinasi keduanya. Karena proses ini berlangsung secara kronik dan terus berlangsung, maka penanganan harus dimulai secara dini.

Jika Anda memiliki gejala-gejala klasik dari penyakit diabetes dan kadar gula darah yang tinggi, maka sangat penting untuk memulai pengobatan dan perubahan pola gaya hidup.

Penyakit kencing manis ini tidak dapat sembuh 100 persen, mengingat organ pankreas pada tubuh mengalami kelainan. Tetapi, penyakit ini dapat dikontrol dengan menggunakan obat–obatan.

Tujuan dari pemberian obat-obatan pada penderita diabetes bukan bersifat untuk menyembuhkan, tetapi mencegah dan menghambat komplikasi yang akan terjadi di kemudian hari. 

Dampak konsumsi obat diabetes yang tidak teratur

Ada 2 kelompok komplikasi penyakit diabetes apabila tidak terkontrol dengan baik, yang dibagi berdasarkan waktunya yaitu :

  1. Akut

Terdapat 2 komplikasi akut dari penyakit kencing manis yaitu keadaan hipoglikemia (menurunnya kadar gula darah < 70mg/dl secara tiba – tiba) dan krisis hiperglikemia (berupa diabetik ketoasidosis dan hiperglikemi hiperosmolar, di mana kadar gula darah dalam tubuh dapat mencapai > 600mg/dl). 

Dua kondisi tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit. Sebab apabila tidak ditangani dan tidak diawasi, perburukan kondisi pasien dapat terjadi sewaktu-waktu dan dapat menyebabkan kematian. 

  1. Kronik

Komplikasi berikutnya adalah komplikasi yang bersifat kronik atau berlangsung menahun. Terbagi menjadi 2 kelompok komplikasi, yaitu makroangiopati (menyerang pembuluh darah besar dari tubuh) dan mikroangiopati (menyerang pembuluh darah kecil dari tubuh).

Pada kelompok makroangiopati, penyakit ini sering menyebabkan komplikasi pada pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner) dan pembuluh darah otak (stroke perdarahan maupun penyumbatan). Sedangkan pada mikroangiopati, sering terjadi komplikasi berupa nefropati (penurunan fungsi ginjal yang dapat berakhir dengan gagal ginjal), retinopati diabetik, dan neuropati (hilangnya sensasi di bagian ujung-ujung kaki dan tangan, sering kesemutan, rasa terbakar). 

Jadi, obat diabetes harus dikonsumsi selamanya?

Ya. Semua penderita diabetes wajib mengonsumsi obat-obatan secara rutin seumur hidupnya untuk mengontrol kadar gula darah.

Selain itu, penderita diabetes juga disarankan untuk melakukan pengontrolan berat badan, tekanan darah, dan kadar lemak tubuh dengan menerapkan hidup sehat, seperti mengatur pola makan dan olahraga secara rutin. 

Meski kadar gula darah sudah mencapai target, bukan berarti penderita diabetes sembuh dan dapat lepas dari obat-obatan. Ingat, progresivitas dari komplikasi penyakit ini setiap hari selalu berjalan terus.

Hanya saja dengan pengobatan dan pola hidup yang baik, komplikasi diabetes tersebut dapat dicegah dan dihambat. 

Konsumsi obat diabetes memang harus dilakukan secara rutin apabila ingin terhindar dari berbagai macam komplikasi. Kontrol kadar gula darah yang baik adalah kunci dari penanganan penyakit ini. Bagi Anda penderita diabetes, jangan lupa juga untuk melakukan pemeriksaan secara rutin ke dokter untuk mengevaluasi kadar gula darah setiap bulannya

Efek Samping Metformin, Obat yang Umum Diresepkan untuk Diabetes

Ada beberapa jenis obat diabetes yang dapat digunakan untuk mengontrol kadar gula darah pada diabetes tipe 2. Salah satu obat yang paling sering direkomendasikan dokter adalah metformin. Obat ini bekerja dengan mengurangi kadar gula yang disalurkan hati ke aliran darah dan membuat tubuh lebih peka terhadap insulin. Namun, sama seperti dengan jenis obat lainnya, metformin memilki efek samping dalam penggunaannya, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Apa saja efek samping metformin?


Efek samping metformin jangka panjang

Diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam darah. Tujuan pengobatan diabetes melalui konsumsi obat adalah untuk membantu menurunkan kadar gula. Dengan begitu, gula darah bisa tetap stabil dalam keadaan normal.

Meskipun termasuk obat diabetes yang paling diandalkan, ternyata metformin tidak selalu bekerja efektif untuk setiap penderita diabetes tipe 2. Salah satu penyebabnya adalah efek samping dari obat ini yang justru melemahkan kondisi kesehatan diabetesi (penderita diabetes)

Berikut adalah jenis-jenis efek samping metformin yang berpotensi terjadi:

1. Asidosis laktat

Meski jarang terjadi, asidosis laktat berpotensi menjadi efek samping metformin yang paling serius. Asidosis laktat adalah penumpukan asam laktat dalam tubuh yang dapat berakibat fatal.

Asidosis laktat terjadi karena metformin mampu menghasilkan asam laktat dalam jumlah besar. Asam laktat sendiri adalah produk hasil metabolisme anaerob (tanpa oksigen) yang akan membuat pH darah lebih asam. Bila kadarnya sangat tinggi maka bisa menyebabkan kerusakan atau gagalnya fungsi berbagai organ tubuh.

Asidosis laktat sebagai efek samping metformin jangka panjang dapat meyebabkan gejala, seperti:

  • Nyeri otot atau merasa lemas
  • Mati rasa atau perasaan dingin di tangan dan kaki
  • Kesulitan bernapas
  • Merasa pusing, kepala berputar, lelah, dan sangat lemas
  • Sakit perut, mual disertai muntah
  • Detak jantung lambat atau tidak teratur

2. Kekurangan vitamin B12

Mengonsumsi metformin dalam jangka panjang menyebabkan menurunnya kadar vitamin B12. Kekurangan vitamin B12 dapat berisiko menimbulkan gangguan kesehatan karena vitamin ini penting untuk menjalankan fungsi DNA, produksi sel darah merah, dan fungsi biokimia lain di dalam tubuh.

Berkurangnya vitamin B12 dalam darah juga dapat menyebabkan anemia megoblastik di mana sumsum tulang tidak dapat memproduksi sel darah merah secara memadai. Meskipun terbilang langka, kondisi ini bisa terjadi jika Anda kekurangan vitamin B12 sebagai efek samping penggunaan obat diabetes ini dalam jangka panjang.

Berikut adalah gejala dari efek samping metformin yang menyebabkan kekurangan vitamin B12:

  • Perubahan warna kulit
  • Peradangan di lidah
  • Refleks tubuh berkurang
  • Merasa gelisah dan tidak tenang
  • Kemampuan mencium bau berkurang
  • Kerusakan saraf-saraf
  • Kesulitan berjalan
  • Gangguan saraf tepi tubuh seperti kesemutan pada jari, kelelahan, nyeri otot, dan cepat lupa.

3. Hipoglikemia

Hipoglikemia adalah kondisi kadar gula darah yang lebih rendah dari biasanya. Jika gula darah turun drastis, hal ini berisiko menimbulkan bahaya bagi kesehatan Anda. Kondisi ini juga terkadang dijumpai sebagai efek samping dari konsumsi metformin pada penderita diabetes.

Efek samping penggunaan metformin jangka panjang yang mengakibatkan hipoglikemia akan memunculkan gejala seperti:

  • Tubuh lemas dan lelah
  • Pusing
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Kepala terasa ringan atau melayang
  • Detak jantung melambat atau semakin cepat

Efek samping metformin lainnya

Selain efek jangka panjang yang telah disebutkan yang telah disebutkan, terdapat juga efek samping yang bisa muncul dalam waktu singkat dari penggunaan obat ini.

Menurut laporan dari University of Louisiana Monroe sekitar 30% orang mengeluhkan efek samping lain dari pengunaan metformin, seperti:

  • Mual dan muntah
  • Gangguan pencernaan
  • Penurunan nafsu makan
  • Nyeri otot dan kram
  • Sakit perut
  • Pilek
  • Sakit perut
  • Tubuh melemah
  • Batuk dan suara serak
  • Diare
  • Lemas dan mengantuk

Dokter biasanya akan meresepkan metformin dalam dosis rendah dalam tahap awal pengoabatan diabetes guna menghindari efek samping ini


Faktor-faktor risiko pemicu efek samping metformin

Pemicu efek samping metformin

Selain perubahan dosis, terdapat pula beberapa faktor yang membuat seseorang jadi lebih berisiko mengalami efek samping metformin, seperti:

1. Menjalani operasi

Operasi dan radiologi dapat memperlambat pembuangan metformin dari tubuh Anda. Akibatnya, hal tersebut dapat meningkatkan risiko Anda mengalami efek samping berupa asidosis laktat.

Jika Anda berencana menjalani prosedur operasi atau radiologi, Anda harus berhenti minum metformin 48 jam sebelum menjalani prosedur tersebut.

2. Minum alkohol secara berlebihan

Minum alkohol ketika sedang minum metformin bisa meningkatkan risiko Anda mengalami hipoglikemia. Selain itu, konsumsi alkohol yang berlebihan juga berpotensi memicu terjadinya asidosis laktat. Hal ini dikarenakan alkohol meningkatkan kadar asam laktat di tubuh Anda.

Anda tidak diperbolehkan minum alkohol secara berlebihan saat minum obat ini. Jika perlu, sebaiknya Anda tidak minum alkohol sama sekali agar Anda dapat terhindar dari risiko terkena efek samping metformin.

3. Gangguan ginjal

Ginjal Anda membuang sisa metformin dari tubuh. Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, akan terlalu banyak metformin di dalam tubuh Anda yang bisa membuat Anda berisiko mengalami asidosis laktat.

Apabila Anda menderita masalah ginjal yang tergolong ringan dan sedang, dokter mungkin akan meresepkan metformin dalam dosis yang rendah.

Namun, jika masalah ginjal yang Anda derita cukup parah dan sudah memasuki usia 80 tahun ke atas, dokter tidak akan meresepkan metformin untuk mengatasi diabetes Anda.

4. Menderita masalah jantung dan hati

Anda tidak disarankan minum metformin apabila Anda menderita penyakit gagal jantung akut atau baru saja mengalami serangan jantung.

Jantung yang bermasalah mungkin tidak dapat menyuplai darah yang cukup ke ginjal. Kondisi ini menyebabkan ginjal tidak mampu membuang metformin dengan baik sehingga risiko terkena asidosis laktat pun tinggi.

Anda juga tidak boleh menjalani pengobatan dengan metformin jika hati Anda bermasalah. Salah satu fungsi hati Anda adalah membuang asam laktat dari tubuh.

Jadi, jika hati tidak berfungsi dengan baik, asam laktat akan menumpuk dalam tubuh. Kondisi ini yang dapat meningkatkan risiko terjadinya asidosis laktat.

Tubuh setiap orang berbeda, sehingga respons terhadap obat metformin juga akan berbeda-beda. Dengan kata lain, berbagai efek samping yang telah disebutkan di atas tidak selalu muncul pada setiap orang.

Dokter Anda akan mempertimbangkan risiko mana yang lebih besar, risiko efek samping metformin atau risiko komplikasi diabetes yang berbahaya. Oleh karena itu, selalu konsultasikan kondisi Anda dan perubahan apa pun yang Anda rasakan setelah minum obat ini pada dokter

Selain perubahan dosis, terdapat pula beberapa faktor yang membuat seseorang jadi lebih berisiko mengalami efek samping metformin, seperti:

1. Menjalani operasi

Operasi dan radiologi dapat memperlambat pembuangan metformin dari tubuh Anda. Akibatnya, hal tersebut dapat meningkatkan risiko Anda mengalami efek samping berupa asidosis laktat.

Jika Anda berencana menjalani prosedur operasi atau radiologi, Anda harus berhenti minum metformin 48 jam sebelum menjalani prosedur tersebut.

2. Minum alkohol secara berlebihan

Minum alkohol ketika sedang minum metformin bisa meningkatkan risiko Anda mengalami hipoglikemia. Selain itu, konsumsi alkohol yang berlebihan juga berpotensi memicu terjadinya asidosis laktat. Hal ini dikarenakan alkohol meningkatkan kadar asam laktat di tubuh Anda.

Anda tidak diperbolehkan minum alkohol secara berlebihan saat minum obat ini. Jika perlu, sebaiknya Anda tidak minum alkohol sama sekali agar Anda dapat terhindar dari risiko terkena efek samping metformin.

3. Gangguan ginjal

Ginjal Anda membuang sisa metformin dari tubuh. Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, akan terlalu banyak metformin di dalam tubuh Anda yang bisa membuat Anda berisiko mengalami asidosis laktat.

Apabila Anda menderita masalah ginjal yang tergolong ringan dan sedang, dokter mungkin akan meresepkan metformin dalam dosis yang rendah.

Namun, jika masalah ginjal yang Anda derita cukup parah dan sudah memasuki usia 80 tahun ke atas, dokter tidak akan meresepkan metformin untuk mengatasi diabetes Anda.

4. Menderita masalah jantung dan hati

Anda tidak disarankan minum metformin apabila Anda menderita penyakit gagal jantung akut atau baru saja mengalami serangan jantung.

Jantung yang bermasalah mungkin tidak dapat menyuplai darah yang cukup ke ginjal. Kondisi ini menyebabkan ginjal tidak mampu membuang metformin dengan baik sehingga risiko terkena asidosis laktat pun tinggi.

Anda juga tidak boleh menjalani pengobatan dengan metformin jika hati Anda bermasalah. Salah satu fungsi hati Anda adalah membuang asam laktat dari tubuh.

Jadi, jika hati tidak berfungsi dengan baik, asam laktat akan menumpuk dalam tubuh. Kondisi ini yang dapat meningkatkan risiko terjadinya asidosis laktat.

Tubuh setiap orang berbeda, sehingga respons terhadap obat metformin juga akan berbeda-beda. Dengan kata lain, berbagai efek samping yang telah disebutkan di atas tidak selalu muncul pada setiap orang.

Dokter Anda akan mempertimbangkan risiko mana yang lebih besar, risiko efek samping metformin atau risiko komplikasi diabetes yang berbahaya. Oleh karena itu, selalu konsultasikan kondisi Anda dan perubahan apa pun yang Anda rasakan setelah minum obat ini pada dokter.

Posted in

Angka Diabetes di Indonesia Semakin Tinggi, Berikut Faktanya!

Penderita diabetes di Indonesia setiap tahunnya semakin meningkat. World Health Organization memperkirakan jumlah pasien diabetes di Indonesia khususnya tipe 2 akan meningkat signifikan hingga 16,7 juta pada tahun 2045. Hal ini bisa terjadi bila masyarakat Indonesia masih kurang sadar akan penyakit ini dan kerap menyepelekannya.

Fakta Seputar Penyakit Diabetes
• Terdapat 425 juta pasien diabetes per tahun 2017 di dunia. Angka ini diperkirakan akan meningkat sebesar 45% atau setara dengan 629 juta pasien per tahun 2045. 
• Komplikasi pada jantung dan ginjal menjadi penyebab utama kematian pasien diabetes di dunia. 
• 75% pasien diabetes pada tahun 2017 berusia 20-64 tahun. 
• Indonesia menempati urutan ke-6 dari sepuluh negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi, yakni 10,3 juta pasien per tahun 2017 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 16,7 juta pasien per tahun 2045. 

Berdasarkan fakta di atas, bisa diketahui bahwa angka penderita diabetes tergolong tinggi. Diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang akan mempengaruhi kualitas hidup dan dapat menyebabkan kematian.

Sering kali, diabetes disebabkan oleh pola hidup tidak sehat dan faktor keturunan. Apabila seseorang memiliki anggota keluarga dengan riwayat diabetes, maka peluang menderita diabetes baik tipe 1 dan tipe 2 pun tinggi. Namun, tak perlu khawatir. Diabetes sesungguhnya dapat dicegah, dengan beberapa cara berikut ini:
Terapkan pola makan sehat.
Untuk menjaga kadar gula darah, sebaiknya hindari makanan yang mengandung banyak gula dan perbanyak konsumsi makanan yang mengandung serat tinggi, rendah lemak, dan rendah kalori. Makanlah dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.

Selain bisa menjaga kadar gula darah, makanan-makanan tersebut juga membantu untuk mencapai berat badan ideal. Beberapa contoh makanan yang dapat dikonsumsi, antara lain ikan, buah-buahan, sayur-sayuran, dan makanan yang terbuat dari biji-bijian. 

Rutin olahraga.
Tak hanya baik bagi jantung dan paru-paru, olahraga juga membantu untuk menstabilkan gula darah. Olahraga yang disarankan adalah berjalan kaki dan bersepeda minimal tiga kali seminggu.

Rutin periksa gula darah.
Untuk menjaga kadar gula darah tetap normal dan stabil, disarankan untuk memeriksanya 4 kali seminggu atau minimal mengikuti tes HbA1c minimal 3 bulan sekali. Jangan lupa untuk mencatat jumlah kadar gula darah setiap kali melakukan pemeriksaan. 

Angka penderita diabetes di Indonesia semakin tinggi, tapi pastikan Anda bukan menjadi bagian darinya. Senantiasa praktekkan langkah-langkah pencegahan diabetes dengan pola hidup sehat. Wujudkan hidup berkualitas tanpa diabetes.
 
dr. Leny Puspitasari, Sp.PD - KEMD
Dokter spesialis penyakit dalam
Posted in

Efek Samping Obat Glibenclamide vs Metformin, Anda mau Pilih Mana?

Setidaknya saat ini lebih dari 1,5 juta orang di Indonesia hidup dengan Diabetes. Depkes memperkirakan akan ada 21,3 juta pasien Diabetes di Indonesia. Meminjam istilah Prof. Askandar Tjokroprawiro, bom waktu itu akan segera meledak. Jauh sebelum hari ini, Prof. Askandar Tjokroprawiro sudah memprediksi bahwa Diabetes akan menjadi penyakit Bom Waktu (Time Bomb Disease). Sedentary life style dianggap merupakan faktor resiko utama perkembangan penyakit Diabetes.

Glibenclamide vs Metformin

Sebagai dokter tentu kita telah faham banyak hal terkait Diabetes Melitus ini. Namun, saya masih sering menemui beberapa perdebatan tentang terapi lini pertama untuk pasien yang baru terdiagnosis.

Masih banyak dokter terutama yang praktek di daerah yang menjatuhkan pilihan kepada obat golongan sulfonilurea untuk mengontrol kadar gula pasien Diabetes. Pilihan biasanya banyak dijatuhkan kepada glibenclamide, bukan glimepiride atau pun gliclazide.

Tentu lagi-lagi harga obat masih menjadi dasar pemilihan, meski beberapa dokter berpendapat memilih glibenclamide karena efek menurunkan gula darah yang cepat dan punya efek lama. Beberapa dokter juga berpendapat pasien lebih patuh untuk mengkonsumsi glibenclamide karena frekuensi konsumsi, satu kali sehari.

Beberapa penelitian terakhir menyarankan kita untuk mulai berfikir ulang ketika hendak meresepkan glibenclamide, terutama pada pasien diatas 65 tahun. Penelitian besar yang melibatkan lebih dari 13.000 pasien diabetes menyimpulkan bahwa glibenclamide menyebabkan hipoglikemia paling sering bila dibandingkan dengan obat golongan sulfonilurea yang lain.

Sekitar 16,9 dari 1000 orang mengalami insiden hipoglikemia setelah diterapi glibenclamide. Penelitian lain di Inggris menyebutkan bahwa pasien berusia diatas 65 tahun yang diterapi glibenclamide memiliki kemungkinan mengalami hipoglikemia 1,27 kali dibandingkan pasien yang lebih muda. Kemungkinan glibenclamide menyebabkan hipoglikemia 52% lebih tinggi bila dibandingkan sulfonilurea lain.

Bagaimana angka keberhasilan glibenclamide vs metformin?

Sebuah penelitian menarik di Swedia dipublikasi tahun 2015 di jurnal British Medical Journal (BMJ). Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa glibenclamide dan Sulfonilurea lain memiliki resiko kegagalan terapi tunggal (monoterapi) empat kali lebih besar bila dibandingkan dengan metformin.

Penelitian lain yang dilakukan tahun 1995 juga menyebutkan bahwa terapi tunggal metformin dapat ditoleransi dengan baik dan memiliki kemampuan mengontrol kadar gula darah lebih baik bila dibandingkan dengan terapi tunggal glibenclamide.

Glibenclamide Lebih Sering Diresepkan di Era BPJS

Ekosistem baru dalam sistem pembayaran kesehatan kita, yang dikelola oleh BPJS, mendorong sejawat dokter dan kawan manajemen klinik/rumah sakit untuk melakukan kendali biaya. Akibatnya, beberapa manajemen klinik/rumah sakit "membuat kebijakan" untuk tidak meresepkan berbagai obat paten yang berharga mahal. Beberapa dari mereka "mendorong" penggunaan glibenclamide sebagai terapi lini pertama diabetes.

Hal ini sah-sah saja bila sudah didukung data yang cukup bahwa penggunaan glibenclamide terbukti lebih cost effective dibanding obat anti-diabetes yang lain. Nyatanya, banyak penderita diabetes yang sudah berusia tua dan rentan mengalami komplikasi hipoglikemia iatrogenik karena konsumsi glibenclamide.

Apakah sudah ada penelitian efek kerugian yang ditimbulkan hipoglikemia berulang terhadap resiko sindroma koroner akut atau gagal ginjal karena konsumsi glibenclamide? Saya rasa belum.

Seorang dokter spesialis penyakit dalam pernah "curhat". Beliau terpaksa resign dari klinik spesialis tempat praktik karena manajemen klinik mewajibkan hanya meresepkan glibenclamide sebagai terapi diabetes rawat jalan. Padahal, pasien klinik tersebut rata-rata adalah pensiunan yang sudah berumur di atas 60 tahun.

Apa jadinya jika mereka rutin mengkonsumsi glibenclamide, tanpa monitoring selama 24 jam? Bagaimana jika suatu saat pasien hipoglikemia dan tidak ada yang tahu? Bagaimana bila pasien meninggal sebelum sempat dibawa ke fasilitas kesehatan? Didorong idealismenya, sejawat tersebut memutuskan untuk resign dari klinik yang sudah "menghidupinya" hingga menyelesaikan sekolah PPDS.

Namun, kita tidak bisa mengelak bahwa mendicine is science and art. Kita tentu memiliki judgement sendiri dalam memilih suatu terapi. Tidak bisa sejawat yang memilih terapi tunggal glibenclamide disalahkan, begitu pula sebaliknya. Mungkin sejawat tersebut memiliki alasan tersendiri memilih suatu terapi. Yang paling penting adalah jangan pernah menjelekkan teman sejawat dihadapan pasien, karena teman sejawat adalah saudara kandung.

Sumber : http://dokterpost.com/glibenclamide-vs-metformin

Posted in

Resistensi insulin

Tidak Tertutup Kemungkinan Anda Mengalami Resistensi Insulin

Faktanya, tidak ada tanda-tanda khusus seseorang mengalami resistensi insulin. Resistensi insulin adalah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik karena terganggunya respon sel tubuh terhadap insulin. Seseorang dapat mengalami resistensi insulin selama bertahun-tahun tanpa pernah menyadarinya.


Tubuh mencerna karbohidrat dalam makanan menjadi glukosa kemudian melepaskannya ke dalam darah. Sel-sel tubuh akan menyerap glukosa dibantu oleh hormon insulin yang dihasilkan kelenjar pankreas. Selanjutnya, glukosa yang terserap akan diubah menjadi energi di dalam sel

Saat seseorang mengalami resistensi insulin, pankreas tetap memproduksi insulin, tapi sel-sel tubuh tidak menyerap glukosa sebagaimana mestinya. Kondisi ini menyebabkan penumpukan glukosa di dalam darah, sehingga membuat kadar glukosa tubuh lebih tinggi dari ukuran normal. Pada tingkatan yang lebih parah, kondisi ini dapat menyebabkan diabetes tipe 2. Bila kadar glukosa lebih dari normal namun belum masuk pada kriteria diabetes tipe 2, kondisi ini disebut prediabetes.

Faktor Risiko Pemicu Resistensi Insulin

Penyebab resistensi insulin belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa hal yang memiliki keterkaitan ataupun menjadi faktor seseorang lebih berisiko mengalami resistensi insulin, di antaranya:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Kebiasaan hidup yang kurang sehat, seperti merokok dan jarang beraktivitas fisik atau olahraga (sedentary lifestyle).
  • Memiliki anggota keluarga yang menderita diabetes.
  • Kebiasaan mengonsumsi makanan berkadar gula dan karbohidrat tinggi.
  • Mengalami diabetes gestasional.
  • Kehamilan.
  • Stres berkepanjangan.
  • Sedang mengonsumsi obat kortikosteroid.
  • Seorang pria dengan lingkar pinggang lebih dari 90 cm dan wanita dengan lingkar pinggang lebih dari 80 cm.
  • Berusia lebih dari 45 tahun.
  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi, kadar kolesterol atau trigliserida tinggi, dan penyakit jantung.
  • Menderita sindrom ovarium polikistik.

Selain lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2, penderita resistensi insulin dapat memiliki ataupun lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan sebagai berikut:

  • Perlemakan hati
    Perlemakan hati adalah penumpukan lemak di dalam organ hati yang diakibatkan oleh lemak yang tidak terkontrol. Salah satu penyebabnya yaitu resistensi insulin.
  • Aterosklerosis
    Aterosklerosis adalah penebalan dan pengerasan dinding arteri besar atau sedang. Aterosklerosis berisiko menyebabkan stroke, penyakit jantung koroner, dan penyakit pembuluh darah tepi.
  • Luka pada kulit, akantosis nigrikans, dan skin tag
    Kadar gula darah yang tinggi karena resistensi insulin dapat mengganggu proses penyembuhan luka. Sebagian penderita resistensi insulin dapat mengalami kondisi yang disebut akantosis nigrikans dengan ciri-ciri bercak hitam pada leher, ketiak, atau pangkal paha. Sementara itu, skin tag adalah permukaan kulit yang menonjol atau menggantung.
  • Sindrom ovarium polikistik/polycystic ovary syndrome (PCOS)
    PCOS adalah gangguan hormonal yang berdampak kepada siklus menstruasi wanita. Kondisi ini juga dapat berdampak pada kesuburan wanita.
  • Gangguan pertumbuhan
    Insulin dalam kadar tinggi dapat berdampak kepada pertumbuhan badan karena insulin sendiri adalah hormon yang mendukung pertumbuhan.

Cara Mengurangi Risiko Resistensi Insulin

Meski belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, namun kabar baiknya ada cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena resistensi insulin dan mencegah diabetes, antara lain:

  • Olahraga selama setidaknya 30 menit per hari dengan jenis aktivitas sedang, misalnya jalan cepat. Lakukan aktivitas ini minimal 5 kali dalam seminggu.
  • Biasakan untuk mengonsumsi makanan sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, protein, dan biji-bijian utuh. Jauhi makanan berkolesterol tinggi.
  • Jaga berat badan agar tetap ideal. Jika Anda kelebihan berat badan, konsultasikan kepada dokter untuk menjalani program penurunan berat badan secara sehat.
  • Batasi konsumsi karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi yang dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat, seperti roti putih, gula, dan jagung mentah. Sudahi pula kebiasaan mengonsumsi produk olahan dari kentang seperti keripik kentang atau kentang goreng, serta makanan berkolesterol tinggi.
  • Konsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah, seperti makanan kaya serat (nasi merah, roti gandum utuh) dan sayuran bebas tepung (asparagus, wortel, brokoli).

Karena resistensi insulin biasanya tidak menimbulkan gejala khusus, maka cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan tes darah untuk mengetahui kadar gula darah dan tes HbA1C. Tes HbA1C merupakan tes darah untuk mengevaluasi kadar gula darah dalam 3 bulan terakhir. Sebagai langkah pencegahan, sebaiknya periksakan kadar gula darah secara rutin dengan berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu.

Sumber : alodokter.com


Posted in
Disclaimer : 
Faktor kondisi tubuh dan minat Pasien serta suport keluarga pasien sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan Pasien. 
Kami mengutamakan Kesembuhan Pasien 
Serius Berobat Hubungi Kami +62 823 3222 2009
Kami mengutamakan Kesembuhan Dan Kejujuran
Serius Berobat Hubungi Kami
+62 823 3222 2009


Segeralah berobat sebelum Penyakit Bertambah Parah