This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 07 September 2024

Tanda Kemoterapi Gagal atau Berhasil

Almarhum Ibu Ani SBY  sabar menjalani Kemoterapi
Kemoterapi adalah salah satu metode perawatan yang umum digunakan dalam pengobatan untuk
melawan kanker. Peluang kesembuhan pasien akan lebih tinggi dengan kemoterapi apabila kanker belum menyebar ke organ-organ lainnya. Biasanya, pasien kanker akan memberikan respon yang positif apabila kemoterapi berhasil dilakukan. 

Tanda-Tanda Kemoterapi Berhasil

Tanda kemoterapi berhasil adalah sebagai berikut:
  • Tidak terdapat pertumbuhan atau pembesaran tumor.
  • Pasien menjadi lebih ber - energi dan tidak mudah lelah.
  • Nyeri yang dirasakan mereda.
  • Berkurangnya benjolan atau pembengkakan, terutama di kelenjar getah bening.
  • Penyebaran kanker mulai menghilang (biasanya terlihat pada PET Scan).
  • Hasil tes darah menunjukkan bahwa sel kanker mulai berkurang.
Tanda kemoterapi berhasil di setiap pasien bisa saja berbeda. Maka dari itu, dokter biasanya melakukan pemeriksaan penunjang. 

Adapun tes yang digunakan untuk memastikan keberhasilan kemoterapi adalah sebagai berikut:
  • Pemeriksaan fisik, untuk melihat ukuran benjolan di kelenjar getah bening pasien.
  • Tes darah, dilakukan dengan pemeriksaan darah lengkap, mulai dari eritrosit, leukosit, trombosit, dan lain-lain.
  • CT Scan, MRI atau PET Scan, untuk melihat ada atau tidaknya pembesaran kanker secara lebih jelas.
  • Tes penanda tumor, adalah tes laboratorium yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya biomarker atau penanda dalam darah yang terkait dengan pertumbuhan kanker atau tumor.
Efek samping kemoterapi yang sering muncul di antaranya: 
  • Mual, Muntah
  • Rambut rontok
  • Diare
  • Penurunan nafsu makan
  • Mudah lelah
  • Panas
  • Sariawan
  • Nyeri
  • Konstipasi
Tanda tanda Kemoterapi di nyatakan GAGAL :
  1. Tumor baru muncul 
  2. Sel kanker tidak mengecil 
  3. Gejala kanker kembali muncul 
  4. Gejala kanker semakin memburuk 
  5. Kanker menyebar ke bagian lain tubuh, yang disebut metastasis
Apabila pasien mengalami sejumlah kondisi di atas selama menjalani kemoterapi, biasanya dokter akan menghentikan pengobatan ini dan menggantinya dengan metode lain, seperti imunoterapi, terapi hormon, terapi target, atau terapi radiasi.

Harapan Hidup Pasien Kanker Payudara di Indonesia

Kanker payudara masih merupakan kanker yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Data dari negara berpendapatan rendah atau menengah (low or middle income countries) menunjukkan sekitar 50% penderita kanker payudara berusia lebih muda dari 50 tahun, yang biasanya memiliki faktor prognosis lebih buruk. Dengan makin baiknya cara pengobatan, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) kanker payudara di berbagai negara dalam 20 tahun terakhir meningkat cukup tajam.


Disebutkan dalam berbagai studi bahwa dengan manajemen kanker multidisiplin yang baik, hampir 90% penderita kanker payudara stadium III yang berusia di bawah 40 tahun masih bisa bertahan hidup lebih dari lima tahun, dan sekitar 70% dapat hidup lebih dari 10 tahun.

Satu faktor utama yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan kanker payudara adalah adanya kerja sama multidisiplin dari berbagai keahlian. Hal ini telah berulang disebutkan pada misalnya Konsensus ASCO dan ESMO 2006, maupun terakhir oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO Global Breast Cancer Initiative, 2023).

Semua kasus kanker dibicarakan dalam diskusi multidisiplin untuk menentukan pilihan dan urutan terapi yang terbaik. Berbeda dengan 30 tahun yang lalu, cukup banyak contohnya kasus kanker payudara yang saat ini tidak lagi harus menjalani operasi mastektomi. Dengan penetapan stadium yang akurat dan adanya pilihan terapi neo-ajuvan (pemberian terapi sistemik oleh ahli Penyakit Dalam/Onkologi Medik sebelum operasi), pasien memiliki kemungkinan pilihan operasi konservasi payudara/ lumpektomi. Jumlah tenaga dokter ahli Onkologi Medik di Indonesia, yang persentasenya dibanding jumlah penduduk masih jauh tertinggal dengan misalnya Vietnam dan Thailand, harus segera ditambah.

Sesudah ada hasil biopsi/patologi yang lengkap, juga sangat penting menentukan pilihan kombinasi dan dosis obat yang tepat. Sesudah hebohnya kasus KepMenKes No 225 tahun 2017 terkait dugaan manipulasi manfaat satu obat kanker payudara, yang sangat memalukan pemerintah dan sampai dibawa ke pengadilan oleh keluarga pasien, sampai saat ini belum ada audit pemakaian obat kanker dalam program BPJS Kesehatan sesuai anjuran dua organisasi dokter ahli kanker pada 2018.

Sangat disayangkan juga bahwa dibandingkan dengan beberapa negara terdekat seperti Singapura, Malaysia, juga China dan India, Kementerian Kesehatan sampai saat ini belum dapat mengatasi berbagai hambatan dalam menetapkan pedoman kerja multidisiplin yang baik dan benar untuk kanker payudara di Indonesia. Keberanian para pejabat Dinas Kesehatan dan pimpinan rumah sakit dalam menindak tegas berbagai cara pengobatan yang salah atau tidak sesuai dengan etika kedokteran, dan merugikan pasien, juga perlu ditingkatkan.

Kita sudah cukup sering mendengar keprihatinan pemerintah terkait banyaknya pasien mampu yang berobat ke luar negeri (Singapura, Penang, Sarawak) dengan membawa dana ratusan triliun rupiah dalam belasan tahun terakhir. Menteri Kesehatan dan para pejabat lain telah melihat berbagai fasilitas modern dan cara kerja di pusat kanker di Amerika Serikat (Klinik Mayo dan MD Anderson Cancer Center), dan pada awal 2023 sudah membuat kerja sama kolaborasi dengan mereka.

Pelatihan tenaga perawat dan dokter di pusat kanker yang lebih maju ini, dan kerja sama penelitian berbagai obat baru, diharapkan dapat dimulai dalam waktu dekat. Di pihak lain, makin banyak RS luar negeri dilaporkan sudah membuka kantor perwakilan di banyak kota besar. Beberapa bulan lalu kita telah menyaksikan adanya pameran berbagai rumah sakit negara tetangga (Malaysia) di Jakarta, dengan maskapai penerbangan nasional kita (Garuda) sudah menjadi mitra dalam menyediakan transportasi yang diperlukan kelompok pasien untuk berangkat berobat ke kota yang diinginkan.

Keluhan atas pelayanan untuk pasien kanker oleh BPJS Kesehatan (antrean dan syarat untuk konsultasi yang berbelit, rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, lama waktu tunggu untuk mendapat diagnosis pasti dan memulai pengobatan termasuk operasi atau radiasi) masih merupakan masalah yang memerlukan perhatian pemerintah. Peran berbagai asuransi swasta dalam penanganan kanker di dalam negeri juga perlu dioptimalkan.

Berbagai pusat kanker di luar negeri diketahui telah menyediakan fasilitas konsultasi online dalam bahasa Indonesia untuk opini kedua (second opinion), bagi pasien yang masih ragu dengan pilihan yang ditawarkan atau akan diberikan, sebelum mulai menjalani terapi. Beberapa pihak juga sudah menyebutkan kemungkinan perizinan bagi rumah sakit luar negeri untuk membuka cabang di berbagai kota besar, atau diperbolehkannya tenaga kesehatan dan dokter ahli dari luar negeri melakukan pelayanan untuk pasien sambil melatih para dokter kita selama beberapa tahun.

Oktober dirayakan sebagai Bulan Kesadaran Kanker Payudara di banyak negara, dengan tujuan mendidik dan meningkatkan pemahaman wanita tentang kanker payudara. Pada Maret 2024, Indonesia direncanakan akan menjadi tuan rumah Asia-Pacific Breast Cancer Summit di Bali. Kita harapkan selanjutnya para penderita kanker payudara di seluruh Indonesia dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik.

Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai hak dan keselamatan pasien, program deteksi dini serta manajemen pengobatan yang optimal, segera tersedianya berbagai obat baru dengan lebih lengkap, ditambah kesadaran semua pihak untuk tidak lagi bekerja seperti 40 tahun yang lalu, maka tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sekitar 80 - 90% pada kanker payudara non-metastatik (stadium II dan III) harus dapat dicapai dalam waktu yang tidak lama lagi.

Ronald Hukom dokter spesialis Penyakit Dalam (Internis), konsultan Kanker dan Kelainan Darah di RS Pondok Indah Jakarta dan RS Kanker Darah Dharmais




Kegagalan Terapi Kanker Karena Resistensi Obat dan Toksisitas

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan RS. Kanker Dharmais, Dra. Rizla Andalusia, Apt., M.Pharm lulus ujian doktor dalam bidang ilmu kedokteran dan kesehatan dari Fakultas kedokteran UGM. Promovenda dengan didampingi promotor Prof. dr. Sofia Mubarika, M.Med.Sc., Ph.D dan ko-promotor Dr.Med. dr. Indwiani Astuti serta dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D berhasil mempertahankan desertasi Hubungan Polimerfisme Gen CYP2B6*4, CYP2B6*6, CYP2B6*9, ALDH1A1, GSTM1 Dan GSTT1 Dengan Toksisitas Hematologik Siklofosfamid Pada Penderita Kanker Payudara Dan Limfoma Non Hodgin.

“Sebagai penyakit ganas, kanker masih menunjukkan angka mortalitas tinggi. Data Globocan tahun 2012 memperlihatkan 14,1 juta kasus baru kanker, sebanyak 8,2 juta berakhir dengan kematian. Sementara dari 5 tahun diagnosis, sebanyak 32,6 juta pasien hidup dengan kanker di seluruh dunia”, ujar Rizla Andalusia di Ruang Senat Gedung KPTU Fakultas Kedokteran UGM, Kamis (5/2) saat menjalani ujian terbuka.


Menurut Rizla, kanker payudara merupakan kanker dengan keganasan tertinggi pada wanita dengan jumlah penderita sebanyak 1.676.633 atau 43,3 per 100 ribu penduduk. Sedangkan kanker limfoma non-hodgin menduduki urutan ke-8 pada laki-laki dan ke 12 pada seluruh kasus dengan penderita sebanyak 385.741 atau 6 per 100 ribu penduduk. 

Bahkan data registrasi kanker RS. Kanker Dharmais tahun 2003-2007 memperlihatkan kanker payudara menempati urutan pertama kejadian kanker pada wanita sebesar 40,58 persen. Kanker payudara tersebut merupakan kanker penyebab kematian tertinggi pada wanita (36,31 %), sementara limfoma non Hodgin menempati urutan keempat pada pria (7,23 %).

Rizla Andalusia mengatakan kegagalan terapi pada kanker dapat disebabkan karena resistensi obat dan toksisitas. Oleh karena itu, pemberian sitostatika menjadi hal yang penting dalam pengobatan kanker.

“Dose limiting toxicity pada pemberian obat sitostatika sering menyebabkan dosis obat yang diberikan tidak optimal,” paparnya. (Humas UGM/ Agung)


Sumber : ugm.ac.id/id/berita/9696-kegagalan-terapi-kanker-karena-resistensi-obat-dan-toksisitas/

Kamis, 05 September 2024

Memahami CA 15-3 Tes Darah untuk Kanker Payudara

Satu tes darah yang mungkin dipesan jika Anda memiliki (atau memiliki) kanker payudara disebut tes antigen 15-3 (CA 15-3) biomarker kanker.

Cancer antigen 15-3 atau CA 15-3 adalah protein atau zat tumor marker yang terdapat di area payudara. Keberadaannya dapat menjadi penanda bahwa seseorang menderita kanker payudara.

Meski begitu, tidak semua jenis kanker payudara dapat dideteksi dengan pemeriksaan CA 15-3. Pasalnya, tidak semua jenis sel kanker memproduksi antigen.

Sama seperti jenis tumor marker lainnya, pemeriksaan CA 15-3 kerap digunakan untuk mengetahui apakah ada kemajuan dari pengobatan kanker atau tidak.

Berikut adalah penjelasan mengenai cara kerja dan prosedur pemeriksaan CA 15-3.

Cara Kerja dan Prosedur CA 15-3

Secara umum, pasien tidak perlu menyiapkan apa pun menjelang pemeriksaan tumor marker CA 15-3.

Di hari pemeriksaan, pasien akan menjalani tahapan pemeriksaan seperti berikut:

  • Dokter akan menusukkan jarum kecil ke pembuluh darah di lengan
  • Melalui jarum tersebut, dokter akan mengambil darah
  • Darah yang disedot tersebut akan ditampung dalam tabung khusus
  • Dokter akan membawa sampel darah untuk diperiksa di laboratorium

Setelah tes selesai, pasien bisa langsung pulang atau melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Sementara, hasil dari tes darah akan keluar dalam waktu satu hingga dua hari.

Arti dari Hasil Tes CA 15-3

Setelah mendapat hasil tes, dokter akan menyimpulkan hasil pemeriksaan dan memberitahukan kepada pasien. Secara umum, hasil bisa bisa berupa kadar CA 15-3 tinggi atau rendah.

Apabila kadar CA 15-3 tinggi, ada kemungkinan pasien mengalami hal ini:

  • Memiliki gangguan kesehatan tertentu, baik itu kanker atau bukan
  • Sel kanker payudara menyebar ke bagian lain tubuh, semisal tulang, liver, atau keduanya
  • Jumlah sel kanker meningkat
  • Sel kanker tidak merespon pengobatan secara baik
  • Jika bukan kanker, pasien bisa saja mengalami endometriosis, peradangan panggul, dan gangguan hati
  • Sedang hamil

Apabila kadar CA 15-3 rendah, berarti sebagai berikut:

  • Pengobatan kanker berhasil
  • Pengobatan atas gangguan kesehatan lainnya berhasil
  • Sel kanker merespon pengobatan secara baik

Tujuan Tes CA 15-3

Tes CA 15-3 tidak ditujukan untuk diagnosis kanker payudara. Pasalnya, sel pada beberapa jenis kanker payudara tidak memproduksi antigen. Selain itu, beberapa gangguan kesehatan lain, selain kanker payudara, memproduksi antigen CA 15-3.

Jadi, tes CA 15-3 ini ditujukan untuk beberapa hal berikut:

  • Memonitor perkembangan sel kanker
  • Memonitor efektivitas pengobatan kanker

Kapan Tes CA 15-3 Diperlukan?

Umumnya, tes CA 15-3 dilakukan pada pasien yang telah didiagnosis kanker payudara. Berikut adalah situasi di mana tes CA 15-3 dilakukan:

  • Pasien telah menjalani kanker payudara dan dokter perlu mengetahui efek dari pengobatan
  • Dokter perlu mengetahui apakah kanker kembali atau tidak

Itulah cara kerja dan prosedur tes CA 15-3.

sumber  https://www.mitrakeluarga.com/fasilitas-layanan/diagnostik/laboratorium-tumor-marker/tes-ca-15-3-2

Biomarker adalah zat dalam darah seseorang y
ang dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan kanker - mereka "menandai" kehadiran kanker.

Menafsirkan CA 15-3 Tes Darah pada Kanker Payudara

CA 15-3 adalah protein yang merupakan produk normal dari jaringan payudara Anda. Sementara protein CA 15-3 tidak menyebabkan kanker payudara, jika tumor kanker ada di payudara Anda, kadar CA 15-3 Anda akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah sel kanker .

Ini karena sel tumor dapat melepaskan salinan protein CA 15-3, yang kemudian dapat diukur dengan tes darah.

Sementara tes darah CA 15-3 tidak digunakan untuk menyaring atau mendiagnosa kanker payudara, ada tiga alasan lain mengapa dokter Anda mungkin memesan tes darah ini:

Mengevaluasi untuk Kambuh Kanker Payudara

Jika Anda telah menyelesaikan perawatan untuk kanker payudara, dokter Anda dapat menguji darah Anda untuk CA 15-3 dengan jadwal rutin untuk melihat apakah kadar Anda naik atau tetap stabil. Kenaikan tingkat CA 15-3 dapat mengindikasikan kekambuhan kanker payudara . Karena kondisi lain dapat menyebabkan peningkatan kadar CA 15-3, bagaimanapun, hasil tes harus dipertimbangkan bersama dengan hasil studi pencitraan, gejala Anda, dan tes lainnya


Pemantauan Tanggapan Anda terhadap Perawatan Kanker Payudara

Tingkat CA 15-3 berikut dapat membantu dokter Anda mengetahui apakah perawatan Anda berfungsi atau tidak. Namun, penting untuk dicatat bahwa mungkin diperlukan waktu empat hingga enam minggu setelah pengobatan sebelum perubahan terlihat pada tingkat CA 15-3.

Pengecualian untuk ini, yang penting untuk dicatat, adalah untuk para wanita yang dirawat dengan obat kemoterapi Afinitor (everolimus).

Karena cara obat ini bekerja melawan kanker payudara, hasil tes biomarker CA 15-3 mungkin sebenarnya kebalikan dari apa yang terjadi dengan kanker Anda. Dengan kata lain, bahkan jika kanker Anda merespons Affinitor, tingkat CA 15-3 Anda akan meningkat, dan jika kanker Anda terus berkembang, tingkat CA 15-3 Anda mungkin menurun, memberi kesan palsu bahwa penyakit Anda membaik.

Menentukan Jika Kanker Payudara Anda Telah Maju

Jika tingkat CA 15-3 Anda terus meningkat, mungkin menunjukkan bahwa kanker Anda memburuk. Bahkan, tingkat CA 15-3 dikaitkan dengan tingkat penyebaran kanker payudara dan sering sangat tinggi ketika metastasis tulang dan / atau metastasis hati hadir (metastasis berarti bahwa kanker payudara telah menyebar ke organ lain di dalam tubuh).

Peringatan Tes Darah CA 15-3

Seperti disebutkan, tingkat CA 15-3 cenderung sangat tinggi pada wanita yang memiliki metastasis hati atau tulang karena kanker payudara, itulah sebabnya tes penanda tumor CA 15-3 paling bermanfaat dalam memantau respons terhadap pengobatan kanker payudara metastasis. .

Meski begitu, ada beberapa peringatan yang harus diingat ketika menafsirkan hasil Anda:

Tidak Setiap Tumor Payudara Menyebabkan Kebangkitan di CA 15-3

Untuk wanita dengan tumor payudara yang tidak menghasilkan CA 15-3 atau dengan kanker payudara tahap awal, tes ini tidak berguna.

Faktanya, hanya sekitar 30 persen wanita dengan kanker payudara lokal (yang berarti kanker terbatas pada payudara) akan mengalami peningkatan kadar CA 15-3. Di sisi lain, pada wanita dengan kanker payudara metastasis, CA 15-3 dapat ditemukan di 50 hingga 90 persen dari semua kasus.

Kondisi Lain Dapat Menyebabkan CA Yang Lebih Tinggi 15-3

Jika tes darah CA 15-3 meningkat, tidak berarti Anda menderita kanker payudara metastatik atau bahkan kanker payudara sama sekali. Ini karena ada beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan peningkatan level CA 15-3 seperti:

  • Kanker lainnya, termasuk kanker rahim, kanker paru-paru , kanker pankreas, kanker hati, kanker prostat, dan kanker usus besar
  • Sirosis hati
  • Tuberkulosis
  • Kondisi payudara jinak
  • Menyusui
  • Kehamilan
  • Lupus
  • Penyakit radang panggul
  • Endometriosis
  • Sarkoidosis

CA 15-3 Hasil Tidak Besar dalam Memprediksi Prognosis

Sementara tes darah CA 15-3 sering meningkat dengan meningkatnya penyebaran kanker payudara metastatik, tidak selalu sangat baik dalam memperkirakan prognosis Anda (kesempatan Anda untuk pulih dari kanker payudara).

Dengan kata lain, sementara tes darah CA 15-3 dapat memberikan informasi yang berguna, itu tidak digunakan untuk hanya membimbing terapi kanker payudara Anda atau memantau seberapa baik Anda menanggapi terapi Anda saat ini.

Satu Kata Dari

Jika tingkat penanda tumor CA 15-3 Anda meningkat, dan itu diyakini terkait dengan penyebaran kanker payudara, Anda dan dokter Anda akan melihat beberapa faktor lain dalam membuat keputusan tentang tes lebih lanjut serta pengobatan.

Beberapa faktor ini termasuk ukuran tumor Anda, tes penanda tumor lainnya, hasil studi pencitraan, serta segala temuan dari riwayat atau pemeriksaan fisik Anda.

Intinya di sini adalah bahwa tes darah CA 15-3 hanyalah satu bagian dari teka-teki ketika datang kepada Anda atau kanker payudara yang Anda cintai. Ada banyak faktor yang menentukan langkah selanjutnya, dan prognosis Anda melampaui nilai-nilai laboratorium. Secara khusus, tes darah CA 15-3 dapat menyebabkan kecemasan karena mungkin diperlukan waktu hingga 6 minggu untuk turun setelah terapi yang efektif, dan dengan beberapa jenis pengobatan, tingkat ini sebenarnya dapat berubah ke arah yang menyiratkan kebalikan dari apa yang benar-benar terjadi.

Terakhir, salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan sebagai survivor kanker payudara adalah menjadi advokat Anda sendiri dalam perawatan kanker Anda . Dalam belajar tentang penanda tumor seperti CA 15-3, Anda telah mengambil langkah yang sangat penting untuk melakukan hal itu.

> Sumber:

> Fejzic, H., Mujagic, S., Azabagic, S., dan M. Burina. Tumor penanda CA 15-3 pada pasien kanker payudara. Acta Medica Academica . 2015. 44 (1): 39-46.

> Nieder, C., Dalhaug, A., Haukland, E., Mannsaker, B., dan A. Pawinski. Dampak Prognostik dari Penanda Tumor CA 15-3 pada Pasien Kanker Payudara dan Metastase Tulang yang Diperlakukan Dengan Radioterapi Paliatif. Jurnal Penelitian Kedokteran Klinis . 2017. 9 (3): 183-187.

> Rafey, M., Akhtar, K., Rab, A. et al. Serum Ca 15-3: Penanda Tumor Berguna dalam Prognostikasi Kanker Payudara Lanjutan Lokal. Annals of Woman and Child Health . 2017. 3 (4): A50-A51.

> Shao, Y., Zianfu, S., Yaning, H., Chaojun, L., dan H. Liu. Peningkatan Tingkat Penanda Tumor Serum CEA dan CA15-3 adalah Parameter Prognostik untuk Subtipe Molekuler Kanker Payudara yang Berbeda. PLoS One . 2015. 10 (7): e0133830.


Jenis Kanker Darah

Pengertian Kanker Darah 

Kanker darah adalah kondisi saat sel darah
menjadi tidak normal. Saat terjadi, gangguan ini dapat memengaruhi produksi dan fungsi sel darah. Sebagian besar kasus dari penyakit ini berawal di sumsum tulang sebagai tempat produksi sel darah. 

Saat terjadi, proses perkembangan sel darah normal menjadi terganggu oleh pertumbuhan yang tidak terkendali dari sel darah abnormal.

Kanker darah sendiri terdiri dari tiga jenis, yaitu limfoma, multiple myeloma, dan leukemia. Berbeda dengan masalah kanker pada umumnya, kanker darah justru tidak membentuk tumor atau benjolan padat. 

Selain itu, gejala dari masalah kesehatan ini juga terbilang tidak spesifik dan sering kali disalahartikan sebagai gangguan medis lainnya.

Tipe Kanker Darah

Ada tiga jenis kanker darah yang dapat terjadi, yaitu:

1. Leukemia

Kanker ini ditemukan dalam darah dan sumsum tulang karena produksi sel darah putih abnormal yang cepat. 

Terlalu banyak jumlah sel darah putih yang abnormal membuat tubuh tidak dapat melawan infeksi. Hal ini juga dapat mengganggu sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah dan trombosit.

2. Limfoma

Kanker darah ini menyerang sistem limfatik, yang berguna untuk menghilangkan kelebihan cairan di dalam tubuh serta menghasilkan sel-sel imun. Limfosit abnormal dapat menjadi sel limfoma yang berkembang biak dan berkumpul di kelenjar getah bening dan jaringan lainnya. 

Pada akhirnya, sel-sel kanker ini dapat merusak sistem imunitas di tubuh.

3. Myeloma

Gangguan ini disebut juga dengan kanker sel plasma. Nah, sel plasma sendiri adalah sel darah putih yang menghasilkan antibodi penangkal penyakit dan infeksi pada tubuh. Sel-sel myeloma dapat mencegah produksi antibodi yang normal. 

Jika dibiarkan dapat membuat sistem kekebalan tubuh melemah dan rentan alami infeksi.

Penyebab Kanker Darah

Diketahui jika penyebab dari penyakit ini adalah perubahan (mutasi) dari DNA di dalam sel darah. Hal ini membuat sel-sel darah di dalam tubuh berperilaku abnormal. 

Pada hampir semua kasus, perubahan ini tidak dapat dikendalikan. Masalah ini terjadi selama seseorang hidup, jadi tidak termasuk kesalahan genetik yang bisa diturunkan pada anak.

Faktor Risiko Kanker Darah

Apa yang menjadi penyebab pastinya memang belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker darah, yaitu:

  • Pria.
  • Berusia lebih dari 55 tahun.
  • Adanya anggota keluarga yang mengidap kanker darah.
  • Memiliki gangguan sistem imunitas tubuh, seperti HIV/AIDS.
  • Sedang mengonsumsi obat imunosupresan.
  • Terinfeksi virus pylori atau Epstein-Barr.
  • Terpapar senyawa kimia, seperti pestisida.
  • Merokok.
  • Paparan radiasi.
  • Alami beberapa kondisi kesehatan dan perawatan.

Gejala Kanker Darah

Gejala yang timbul tergantung dari tipe yang menyerang. Namun, tidak mudah mendeteksi gejala dari gangguan ini karena bisa saja mirip dengan kondisi medis lainnya. Secara umum, gejala dari kanker darah, antara lain:

  • Tubuh demam dan menggigil.
  • Mual dan muntah.
  • Mengalami sembelit.
  • Sakit tenggorokan.
  • Sakit kepala.
  • Tubuh menjadi mudah lelah.
  • Suka berkeringat pada malam hari.
  • Mengalami penurunan berat badan secara drastis. 
  • Munculnya bintik berwarna merah pada kulit.
  • Sering terserang infeksi.
  • Terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di area leher, ketiak, atau selangkangan.
  • Nyeri pada area persendian dan tulang, terutama di bagian tulang belakang atau tulang dada.
  • Sering mengalami memar dan perdarahan, misalnya mimisan.
  • Mengalami sesak napas.

Nah, ternyata memar juga bisa menjadi gejala dari kanker darah. Oleh karena itu, penting untuk Kenali Memar pada Tubuh sebagai Gejala Dini Kanker Darah.

Diagnosis Kanker Darah

Umumnya, diagnosis kondisi ini membutuhkan wawancara medis dan pemeriksaan fisik oleh dokter. Pertama, menanyakan terkait gejala yang dirasakan serta riwayat kesehatan. Kemudian mencari hubungan hal tersebut dengan kanker darah.

Dokter akan mencari tanda-tanda terjadinya kanker darah melalui pemeriksaan fisik, seperti kulit yang pucat disebabkan oleh anemia, pembesaran kelenjar getah bening, dan masih banyak lagi. 

Semakin dini semua gejala ini dipastikan, penanganan semakin efektif dilakukan.

Berikut pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan oleh dokter:

  • Pemeriksaan darah rutin.
  • Apusan darah tepi.
  • Morfologi darah tepi.
  • Pemeriksaan sumsum tulang.

Selain itu, pengidap mungkin juga akan menjalani pemeriksaan tambahan untuk menentukan tingkat keparahan kanker darah. Setelah mendapatkan diagnosis, dokter dapat memutuskan penanganan yang paling sesuai.