This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 03 April 2024

Kemoterapi, Begini Prosedur dan Efek Sampingnya

Kemoterapi, Begini Prosedur dan Efek Sampingnya - AlodokterKemoterapi atau kemo bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan sel kanker yang tumbuh di dalam tubuh. Meski pengobatan ini dapat membantu mengatasi penyakit kanker, kemoterapi juga memiliki efek samping yang tidak sedikit.

Pengobatan kemoterapi terdiri dari beberapa jenis. Oleh karena itu, jenis pengobatan kemoterapi yang diberikan akan bergantung pada jenis kanker, lokasi kanker, stadium kanker, penyebaran sel kanker, dan kondisi kesehatan pasien.

Efek samping yang ditimbulkan dari kemoterapi juga berbeda-beda. Beberapa orang bisa merasakan kelelahan, mual, sariawan, hingga rambut rontok sebagai efek samping kemoterapi yang ringan. Namun, ada pula yang memerlukan penanganan dokter dengan segera jika efek sampingnya cukup parah.

Memerangi Sel-Sel Berbahaya

Kemoterapi merupakan salah satu jenis pengobatan yang digunakan untuk menghancurkan sel kanker yang berbahaya bagi tubuh. Cara kerjanya adalah dengan menghentikan atau menghambat pertumbuhan sel kanker yang berkembang dan membelah diri dengan cepat.

Selain itu, kemoterapi memberikan ragam manfaat lain, seperti:

  • Memperkecil ukuran tumor ganas dan meringankan rasa sakit
  • Mencegah penyebaran, memperlambat pertumbuhan, sekaligus menghancurkan sel kanker yang berkembang ke bagian tubuh lain (metastasis)
  • Menghancurkan semua sel kanker hingga sempurna dan mencegah kekambuhan kanker

Meski mampu menghancurkan sel kanker, kemoterapi juga dapat merusak sel sehat yang berada di sekitarnya. Sel sehat yang ikut rusak inilah yang dapat mengakibatkan efek samping. Namun, efek samping yang muncul umumnya akan segera menghilang setelah pengobatan kemoterapi dihentikan.

Jenis-Jenis Kemoterapi

Kemoterapi terkadang dilakukan sebagai satu-satunya upaya penanganan kanker. Namun, sering kali tindakan ini dilakukan bersamaan dengan operasi, terapi radiasi, atau terapi medis lain.

Kemoterapi umumnya dilakukan pada saat berikut ini:

  • Sebelum operasi atau terapi radiasi (kemoterapi neoadjuvant), agar ukuran tumor menjadi lebih kecil
  • Setelah operasi atau terapi radiasi, untuk menghancurkan sel kanker yang tersisa
  • Ketika dilakukan terapi radiasi dan terapi medis, untuk memaksimalkan efek pengobatan

Metode kemoterapi yang dilakukan tergantung kepada jenis kanker yang diderita. Berikut ini adalah beberapa cara melakukan kemoterapi:

1. Topikal

Krim atau gel yang mengandung obat kemoterapi akan dioleskan pada kulit. Metode kemoterapi ini biasanya dilakukan untuk mengatasi jenis kanker kulit tertentu.

2. Oral

Beberapa kemoterapi dapat dikonsumsi dalam bentuk pil, kapsul, atau cairan yang diminum.

3. Suntik

Obat kemoterapi injeksi dapat diberikan melalui suntikan pada otot atau lapisan lemak, misalnya di lengan, paha, atau perut.

4. Intraperitoneal (IP)

Obat kemoterapi langsung diberikan melalui prosedur operasi atau lewat selang khusus ke dalam rongga perut di mana terdapat usus, hati, dan lambung.

5. Intraarteri (IA)

Obat kemoterapi langsung dimasukkan ke dalam arteri yang menyalurkan darah ke kanker.

6. Intravena (IV)

Obat kemoterapi langsung dimasukkan ke pembuluh darah vena melalui alat, seperti kateter atau selang infus.

Efek Samping Kemoterapi

Kemoterapi merupakan pengobatan kanker yang efektif dan terbukti mampu menyelamatkan jutaan jiwa. Namun, dibalik itu, kemoterapi juga memiliki efek samping yang beragam.

Efek samping dari kemoterapi bisa berbeda pada tiap orang, termasuk tingkat keparahannya. Efek samping ini dapat muncul karena obat-obatan tersebut tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel sehat. Akibatnya, sel sehat yang berada di sekitar sel kanker dapat ikut rusak dan menimbulkan sejumlah efek samping, seperti:

  • Rambut rontok
  • Nyeri
  • Tidak nafsu makan
  • Penurunan berat badan secara drastis tanpa direncanakan
  • Mual dan muntah
  • Sesak napas dan kelainan detak jantung akibat anemia
  • Kulit kering dan terasa perih
  • Perdarahan, seperti mudah memar, gusi berdarah, dan mimisan
  • Sering sakit karena terinfeksi
  • Sulit tidur
  • Gangguan psikologis, seperti depresi, stres, dan cemas
  • Gairah seksual menurun dan gangguan kesuburan (infertiltas)
  • Rasa lelah dan lemah sepanjang hari
  • Konstipasi atau diare
  • Sariawan

Meskipun jarang terjadi, pada beberapa kasus, kemoterapi bisa menimbukan masalah yang lebih serius. Salah satunya adalah menurunnya kadar sel darah putih dengan cepat, sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi. Jika ini terjadi, Anda rentan mengalami sakit yang lebih parah.

Oleh karena itu, sebisa mungkin hindarilah kontak dengan orang yang sedang sakit atau terinfeksi selama Anda menjalani kemoterapi. Jika setelah kemoterapi Anda mengalami gejala, seperti demam di atas 37°C, diare, muntah-muntah, sulit bernapas, sakit dada, atau pendarahan, segera periksakan diri ke dokter.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum dan Sesudah Kemoterapi

Pengobatan kemoterapi umumnya dilakukan di rumah sakit guna memantau efektivitas dan kemungkinan munculnya efek samping. Sebelum kemoterapi dilakukan, dokter onkologi biasanya akan memeriksa kesehatan Anda secara menyeluruh, mulai dari tes darah hingga pemeriksaan Rontgen.

Seteleh pemeriksaan dilakukan, dokter akan menyusun perencanaan pengobatan, seperti menentukan jenis kemoterapi yang diterima hingga berapa kali kemoterapi dilakukan. Penyusunan rencana pengobatan ini akan bergantung pada jenis kanker yang diderita dan tujuan dari pengobatan.

Selama pengobatan kemoterapi, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter ketika ingin mengonsumsi obat-obatan lain, termasuk obat alergi, herbal, atau pereda nyeri. Anda juga disarakan untuk mengindari konsumsi minuman keras setidaknya selama menjalani kemoterapi.

Meski tiap orang memiliki reaksi berbeda, sebagian besar orang akan merasakan letih dan lelah setelah menjalani kemoterapi. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk menghindari menyetir kendaraan sendiri atau aktivitas yang memerlukan energi atau konsentrasi tinggi usai menjalani kemoterapi.

Sebisa mungkin, ajak anggota keluarga atau kawan untuk mendampingi serta menemani Anda pulang.

Mengobati penyakit berbahaya seperti kanker tidaklah mudah, termasuk saat menjalani sesi kemoterapi. Jadi, selama menjalani pengobatan ini, ikuti selalu saran dokter dan hindari hal-hal yang bisa mengganggu proses pengobatan agar hasilnya pun optimal

Senin, 01 April 2024

Keberhasilan Kemoterapi Ternyata masih rendah

Jakarta - Sebagian orang berpendapat efek samping kemoterapi lebih besar dibandingkan manfaat yang didapatkan. Bahkan peluang untuk kanker sembuh dengan sendirinya diyakini justru lebih tinggi jika dibiarkan tanpa kemoterapi. Benarkah demikian?

Berbagai tulisan tentang hal itu banyak beredar di situs-situs maupun forum diskusi di internet. Sebagian besar mengatakan bahwa tingkat kesembuhan kanker yang diobati dengan kemoterapi hanya sekitar 3 %, sedangkan sisanya 97% berakhir dengan kegagalan

Angka ini kemudian dibandingkan dengan data lain yang menunjukkan bahwa peluang kanker untuk sembuh sendiri tanpa diobati. Menurut sebuah data dari Norwegia, 22 persen kanker payudara mengalami spontaneus remission atau sembuh dengan sendirinya.

Perbandingan ini memunculkan dugaan bahwa keberhasilan kemoterapi tidak hanya rendah, tetapi sekaligus juga menurunkan peluang bagi tubuh untuk memerangi sel kanker itu sendiri. Faktanya, obat kemoterapi memang menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, Dr Drajat Ryanto Suardi, SpB(K)Onk membenarkan bahwa efek samping obat kemoterapi bisa menurunkan daya tahan tubuh. Namun jika dikatakan bahwa peluang keberhasilan kemoterapi hanya 3 persen, dengan tegas ia membantah.

"Bisa saya katakan, data itu tidak benar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi efektivitas dan tingkat kesembuhan kemoterapi dan sejauh ini tidak ada data ilmiah yang mengatakan demikian," tegas Dr Drajat saat dihubungi detikHealth, Selasa (24/1/2012).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan kemoterapi menurut Dr Drajat adalah jenis sel kanker dan sensitivitasnya terhadap obat. Limfoma malignant (kanker getah bening) dan kanker payudara misalnya, jika diambil angka secara kasar kasar rata-rata tingkat keberhasilan kemoterapinya bisa mencapai 50 persen.

Faktor berikutnya adalah grade atau tingkat keganasan kanker (sifat kanker) yang terdiri dari 3 grade, makin rendah grade kankernya maka tingkat keberhasilan kemoterapi makin tinggi. Kedua faktor tersebut, grade dan jenis kanker ditentukan berdasarkan hasil biopsi atau pemeriksaan sampel jaringan.

Selain itu, stage atau stadium kanker yang terdiri dari 4 stadium juga mempengaruhi keberhasilan kemoterapi. Sebagai contoh untuk kanker payudara, stadium 1 punya tingkat keberhasilan antara 80-85 persen sehingga pemeriksaan dini akan sangat menentukan peluang kesembuhan.

Tak kalah pentingnya, kebulatan tekad pasien dalam menjalani kemoterapi juga sangat menentukan tingkat keberhasilan. Menurut Dr Drajat, jika pasien punya tekad kuat untuk sembuh maka tanpa disadari tubuhnya akan membantu melakukan fight atau perlawanan terhadap sel kanker.

Terkait pendapat bahwa peluang kesembuhan kanker bisa lebih tinggi jika dibiarkan tidak diobati, Dr Drajat kurang sependapat. Bahkan ketika pasien memutuskan untuk menjalani pengobatan alternatif, pengobatan secara medis baik berupa kemoterapi, operasi maupun radioterapi tetap tidak boleh ditinggalkan.

"Pada dasarnya tidak ada larangan untuk melakukan pengobatan alternatif. Kapan saja mau dilakukan boleh-boleh saja, yang penting medisnya jangan ditinggalkan karena kalau hanya mengandalkan alternatif itu kan belum ada bukti ilmiahnya," pesan Dr Drajat.

Sumber : https://health.detik.com/ulasan-khas/d-1823777/benarkah-kanker-lebih-bisa-sembuh-jika-tak-dikemoterapi.

15 Gejala Utama Penyakit Kanker harus di pahami


Untuk mendeteksi kanker sedini mungkin, kamu perlu mengenali beragam tanda kanker, seperti:

1. Perubahan pada mulut

Kanker mulut sering terjadi pada perokok. Jenis kanker ini dapat ditandai dengan munculnya bercak merah cerah, abu-abu, atau kuning di dalam mulut dan lidah. Keluhan ini juga sering disertai dengan pembengkakan di mulut, mulut yang sering berdarah tanpa sebab jelas, serta mati rasa pada mulut dan wajah.

2. Rasa sakit saat menelan

Rasa sakit saat menelan merupakan gejala yang umum muncul akibat radang tenggorokan atau amandel. Namun, kamu perlu tahu bahwa kanker tenggorokan atau kanker perut juga memiliki gejala serupa.

Terkadang, gejala nyeri menelan akibat kanker juga dapat disertai dengan sering muntah atau penurunan berat badan secara drastis dalam waktu yang singkat tanpa penyebab yang jelas.

3. Batuk darah

Batuk darah memang bukan gejala yang bisa dianggap sepele, apalagi jika sudah berlangsung lama hingga lebih dari empat minggu. Soalnya, gejala ini bisa jadi pertanda kanker paru-paru, lho.

Selain batuk darah, kanker paru-paru juga bisa disertai dengan gejala lain, seperti kehilangan nafsu makan, lelah berlebihan, penurunan berat badan, dan sesak napas.

4. Nyeri ulu hati

Nyeri ulu hati yang tidak kunjung reda dan terasa sangat mengganggu, serta tidak berkurang dengan pengobatan biasa, bisa jadi gejala kanker ovarium, kanker tenggorokan, atau kanker lambung.

5. Perut kembung

Perut yang terasa kembung, penuh, atau begah terus-menerus, terlebih bila diiringi dengan perdarahan vagina atau penurunan berat badan yang drastis, bisa jadi merupakan tanda adanya kanker usus, kanker pankreas, atau kanker ovarium.

6. Gangguan BAB dan BAK

Munculnya kencing darah atau BAB berdarah yang terjadi dalam jangka waktu panjang, dapat menjadi pertanda adanya penyakit yang serius, seperti kanker usus, kanker ginjal, atau kanker kandung kemih.

7. Depresi dan sakit perut

Salah satu gejala kanker pankreas adalah sakit perut yang menjalar ke punggung. Tak hanya itu, kanker pankreas juga dapat menimbulkan gejala lain, seperti hilang nafsu makan, lelah berlebihan, dan depresi. Ini dikaitkan dengan terganggunya fungsi pankreas dalam memproduksi hormon tertentu, neurotransmiter, dan bikarbonat.

8. Perdarahan di luar waktu menstruasi

Perdarahan di luar waktu menstruasi atau durasi menstruasi yang memanjang, dengan jumlah darah yang berlebihan, dapat menjadi pertanda kanker endometrium atau kanker pada dinding rahim.

9. Perubahan pada testis

Kanker testis biasanya diawali dengan adanya benjolan pada buah zakar atau testis pria yang terasa nyeri. Kondisi ini juga bisa disertai dengan penimbunan cairan di dalam skrotum (kantung penis), benjolan yang terasa berat, dan sakit seperti tertusuk-tusuk.

10. Rasa sakit pada bagian tubuh tertentu

Nyeri berlebihan atau berkepanjangan dapat menjadi pertanda adanya kanker pada bagian tubuh tertentu. Sebagai contoh, sakit kepala yang terjadi secara terus-menerus dapat menjadi tanda adanya tumor pada otak. Sedangkan nyeri punggung bawah yang tidak kunjung sembuh dapat menandakan adanya kanker ovarium dan kanker usus.

11. Perubahan pada kulit

Kanker kulit dapat ditandai dengan perubahan warna kulit, kemerahan pada kulit, permukaannya menjadi keras atau bersisik, dan timbulnya benjolan mencurigakan di permukaan kulit. Selain itu, kanker kulit juga dapat dikenali dari adanya tahi lalat yang bertambah besar, dengan warna yang mencolok dan tepi yang tidak tertatur.

12. Perubahan pada payudara

Kanker payudara yang terjadi pada pria dan wanita memiliki gejala yang serupa, yaitu dimulai dengan adanya benjolan pada payudara, kulit payudara berkerut menyerupai kulit jeruk dan berwarna kemerahan, terasa nyeri, serta adanya cairan atau darah yang keluar dari puting.

13. Berat badan turun secara drastis

Kanker pankreas, kanker lambung, dan kanker paru-paru umumnya akan memunculkan gejala awal berupa penurunan berat badan secara drastis. Penurunan berat badan ini terjadi meski kamu tidak melakukan olah raga atau diet, dan terjadi dalam waktu singkat.

14. Demam berkepanjangan

Penyakit leukemia atau kanker darah umumnya diawali dengan gejala demam berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh dan tanpa sebab yang jelas.

15. Kelelahan yang tidak kunjung reda

Selalu merasa lelah meski sudah cukup beristirahat bisa jadi gejala kanker, lho. Bahkan, kelelahan kronis juga bisa menjadi tanda bahwa kanker sedang berkembang di tubuh.

Sikap waspada terhadap gejala kanker, dapat membantu upaya dokter dalam deteksi kanker sedini mungkin. Semakin cepat kanker dideteksi, semakin tinggi kemungkinannya untuk bisa diobati.

Sumber: alodokter.com/